Selasa, 02 Juni 2020
Anak
Anak itu sedang bermain dedaunan di halaman rumah, saat aku membuka pagar. Lesung pipi di pipi kanannnya melekuk manis saat ia membalas senyumku, itu lesung pipiku.
Anak itu rambutnya begitu legam, lurus, dipotong pendek. Matanya lebar, bening dan bola matanya berwarna cokelat gelap. Mata yang aku kenal sejak lama. Binarnya sama persis. Ada kepedulian sekaligus ribuan keingintahuan yang begitu dalam saat ia menatapku.
"Ibu." Panggilnya. Ia lalu meninggalkan tumpukan daun dan ranting-ranting yang sedang ia kumpulkan.
Aku memeluknya, rasanya belum enam jam aku meninggalkannya tapi rinduku yang bertumpuk-tumpuk luruh begitu saja saat tangan mungilnya memeluk pinggangku.
"Ibu lelah?" tanyanya, sambil mengambil alih tas jinjingku, lalu menuntunku masuk ke dalam rumah.
Ada yang bergegas membukakanku pintu, memelukku dan mengecup pipiku.
"Sana bersih-bersih dulu, aku baru selesai masak sayur kangkung." sambil mengacak-acak rambutku seperti yang sering dilakukannya sejak sepuluh tahun lalu.
Aku membalasnya dengan senyuman bangga, seraya menghembuskan napas panjang. Rasanya tidak ada yang berubah, sejak rumah ini belum memiliki tiraipun aku selalu merasa pulang ketika membuka pintunya.
Langganan:
Komentar (Atom)