Senin, 15 Agustus 2022

Tubuh, ialah Tempat Penyimpan Memori Terbaik

Pagi ini aku duduk kembali di ruang tunggu laboratorium Paviliun Bonaventura, Rumah Sakit Atma Jaya. Sama dengan lima tahun silam, aku duduk disana menunggu giliran medical check-up. Badanku masih mengingat benar suhunya, aku setengah menggigil, dan hari ini aku mengingat  lagi saat itu. Setengah dekade silam, waktu menunggu dipanggil rasanya sangat lama, aku masih seorang Iska yang kemana-mana masih membawa buku catatan dan pena sebagai teman perjalanan. 

Waktu itu aku masih seorang berusia 23 tahun, yang baru lulus dengan banyak masalah dan kebimbangan, diantara banyak keraguan atas berbagai keputusan yang harus kuambil dengan yang merasa sendirian dan ketakutan menghadapi ketidakpastian hidup tetapi tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk memilih mati. Aku mengingat kembali kalimat-kalimat yang kutulis dalam lembaran buku catatanku saat itu sembari menulusuri rasa yang seakan-akan sama.

Kemudian aku mempertanyakan lagi, kenapa setelah lima tahun rasa ini masih ada, setelah dua hal yang kudoakan lima tahun lalu sembari menunggu rontgen thorax sudah terkabul sejak lima tahun lalu. Pekerjaan dan teman hidup. Aku mengingat-ingat kembali sembari mencari alasan untuk bersyukur, atas lima tahun pekerjaan ini boleh menjadi pekerjaanku. Atas kemandirian finansial, yang meskipun masih terseok-seok dan kadang masih belum tercukupkan aku tidak sampai kelaparan. Pekerjaan ini dulu begitu kuinginkan, namun jujur saja, kini aku kehilangan alasan untuk mensyukurinya, kehilangan alasan untuk mempertahankannya. Aku menelusuri kembali apa saja yang kulalui lima tahun ini, bukan pencapaiaanya tentu saja, karena tidak ada. Tapi mungkin saja perjalannannya. Aku terpaku pada apa yang mustinya aku peroleh, apa yang layaknya aku capai, apa yang sudah aku peroleh... tapi tidak atau belum, padahal disisi lain ada banyak hal yang meskipun tak kasat mata, tidak prestise tapi kudapatkan. Ruang bertumbuh juga hal yang berharga, lingkungan yang gembur untuk mengembangkan diri juga berarti, lingkungan yang menyembuhkan juga penting.

Satu lagi entah apa yang membuatku meragukan seseorang yang saat ini menemaniku, padahal waktu itu sungguh sungguh ku doakan, aku meminta hikmat untuk memintanya. Tapi sepertinya belakangan ini aku memandang hubungan kami dengan kurang berhikmat, dengan sudut pandang yang kurang dewasa dan penuh ketidak yakinan. Padahal pernyataannya jelas waktu itu "Jika memang dia untukku, maka perbolehkan kami untuk berjalan bersama-sama. Jika bukan, maka jauhkan, pisahkanlah jalan yang kami tempuh tanpa menyakiti satu sama lain." Jika sampai hari ini kami masih bersama-sama, di jalan dengan tujuan yang sama bukankah jawaban yang pasti bahwa entah hari ini atau lima tahun lalu jawabannya sama. Memiliki teman bertumbuh, sama dengan menjadi pohon kacang yang tumbuh bersama dengan pohon singkong. Saling berbagi nutrisi, dan tumbuh bersama sebagai penjaga dan sebagai penyangga.

Sabtu, 08 Januari 2022

The Pain of being Underestimated

 Kesakitan karena disepelekan?
Seiring bertambahnya usia dan banyaknya orang yang lalu lalang dalam hidupku, akupun belajar bahwa ada beberapa orang yang pedapatnya perlu didengar dan beberapa orang lagi tidak perlu, atau bahkan sebaiknya diabaikan. Semakin kesini, jumlahnya semakin tidak banyak dan orang-orangnya semakin spesifik berdasarkan pendapat yang diperlukan.

Tetapi ada hal yang lupa aku ingat bahwa pandapat orang, adalah sesuatu yang ada di luar kendali kita. Jadi bahkan orang yang menurut kita pendapatnya begitu penting pun bisa jadi memberi pendapat yang mengecewakan atau bahkan menjatuhkan. Rasanya lebih sakit, karena pendapat ini berasal dari seseorang yang selama ini pendapatnya begitu kita perhitungkan.

Tapi sekali lagi, pendapat orang, adalah salah satu dari sekian banyak hal di dunia ini yang diluar kendali kita. Mengingat bahwa kita adalah manusia yang memiliki pemikiran bertumbuh, kepahitan semacam ini hanya harus disembuhkan. Lebih tepatnya, ini adalah urusan antara kita dengan perasaan kita sendiri.

Kecewa? Pasti.
Sakit? Tentu saja.
Tetapi penyelesaiannya bukan dengan orang yang bersangkutan, mencoba memperbaiki keadaan dengan konfrontasi pada kasus ini bukan merupakan jalan keluar. Karena mengubah cara orang berpikir, terlebih opini personalnya tentang kita tentu saja bukan tanggung jawab kita yang berada diluar dirinya. Satu lagi, ini adalah tentang cara berpikir yang memengaruhi perasaan. Terlalu abstrak untuk luruskan pada satu kaidah. Pemikiran dan rasa adalah kedua hal yang sama-sama bebas, sama-sama hanya terikat kepada pemiliknya.

Lepaskan, pertama-tama dari cara kita berpikir bahwa kita sedang disakiti, dengan berpikir bahwa dia tidak sedang menyakiti kita melainkan berperilaku layaknya manusia bebas, bahwa ia hanya sedang berkata-kata berdasarkan kodratnya sebagai manusia yang dipengaruhi oleh banyak hal diluar dirinya, kita sama saja sedang membebaskan diri kita dari perasaan sebagai korban. Kemudian, abaikan perasaan yang sebenarnya adalah prasangka yang sedang bermanifestasi dalam kepedulian, kali ini kepedulian yang sesungguhnya adalah dengan membiarkan. Proses membiarkan ini akan mengantar kita pada kebebasan atas luka-luka yang sejatinya ditimbulkan oleh pemikiran kita  sendiri.


Terakhir: menjadi pulih. Pulih adalah pilihan, jadi dari setiap kesakitan pulih hanya kita yang mampu mengupayakan, berasal dari kesadaran dan kemauan kita sendiri.

Pulihlah!