Kesakitan karena disepelekan?
Seiring bertambahnya usia dan banyaknya orang yang lalu lalang dalam hidupku, akupun belajar bahwa ada beberapa orang yang pedapatnya perlu didengar dan beberapa orang lagi tidak perlu, atau bahkan sebaiknya diabaikan. Semakin kesini, jumlahnya semakin tidak banyak dan orang-orangnya semakin spesifik berdasarkan pendapat yang diperlukan.
Tetapi ada hal yang lupa aku ingat bahwa pandapat orang, adalah sesuatu yang ada di luar kendali kita. Jadi bahkan orang yang menurut kita pendapatnya begitu penting pun bisa jadi memberi pendapat yang mengecewakan atau bahkan menjatuhkan. Rasanya lebih sakit, karena pendapat ini berasal dari seseorang yang selama ini pendapatnya begitu kita perhitungkan.
Tapi sekali lagi, pendapat orang, adalah salah satu dari sekian banyak hal di dunia ini yang diluar kendali kita. Mengingat bahwa kita adalah manusia yang memiliki pemikiran bertumbuh, kepahitan semacam ini hanya harus disembuhkan. Lebih tepatnya, ini adalah urusan antara kita dengan perasaan kita sendiri.
Kecewa? Pasti.
Sakit? Tentu saja.
Tetapi penyelesaiannya bukan dengan orang yang bersangkutan, mencoba memperbaiki keadaan dengan konfrontasi pada kasus ini bukan merupakan jalan keluar. Karena mengubah cara orang berpikir, terlebih opini personalnya tentang kita tentu saja bukan tanggung jawab kita yang berada diluar dirinya. Satu lagi, ini adalah tentang cara berpikir yang memengaruhi perasaan. Terlalu abstrak untuk luruskan pada satu kaidah. Pemikiran dan rasa adalah kedua hal yang sama-sama bebas, sama-sama hanya terikat kepada pemiliknya.
Lepaskan, pertama-tama dari cara kita berpikir bahwa kita sedang disakiti, dengan berpikir bahwa dia tidak sedang menyakiti kita melainkan berperilaku layaknya manusia bebas, bahwa ia hanya sedang berkata-kata berdasarkan kodratnya sebagai manusia yang dipengaruhi oleh banyak hal diluar dirinya, kita sama saja sedang membebaskan diri kita dari perasaan sebagai korban. Kemudian, abaikan perasaan yang sebenarnya adalah prasangka yang sedang bermanifestasi dalam kepedulian, kali ini kepedulian yang sesungguhnya adalah dengan membiarkan. Proses membiarkan ini akan mengantar kita pada kebebasan atas luka-luka yang sejatinya ditimbulkan oleh pemikiran kita sendiri.
Terakhir: menjadi pulih. Pulih adalah pilihan, jadi dari setiap kesakitan pulih hanya kita yang mampu mengupayakan, berasal dari kesadaran dan kemauan kita sendiri.
Pulihlah!