Kamis, 18 Oktober 2018

Ketika Semua Tak Lagi Sama

Ini percakapan semalam. Adalah tentang hubungan yang sudah dijalani selama empat tahun enam bulan. Atau berapapun itu, tak penting rasanya seberapa lama.
Dulu, rasanya setiap hal rasanya menarik untuk diceritakan, semua hal rasanya menarik untuk dibahas.
Sampai beberapa malam ini, kami hampir mengahbiskan 1 jam hanya dengan beberapa pertanyaan dan jawaban yang begitu singkat, dijeda dengan diam yang lebih panjang daripada apa yang dibicarakan.
Dirasa-rasa ini cukup mengkhawatirkan. sudah seminggu atau lebih, yang bisa kami asumsikan dengan 'belakangan ini'.
Dulu rasanya percakapan begitu hangat dan mudah saja ngalir, kadang hingga tengah malam atau dini hari. Belakangan ini rasanya ngobrol satu jam pun mulai melelahkan, karena sampai mencari-cari apa yang harus diceritakan apa yang harus ditanyakan.
Apa yang salah, siapa yang salah.
Menurutku...
It's not about we don't care.
It's not about we don't love each other anymore.
 And I believe that chemistry is last forever.
Lalu apa yang salah. Jujur aku paling benci ketika ada teman yang bercerita tentang mereka yang mulai jenuh dengan hubungan yang sedang mereka jalani.
Wich is, to be honest... I (almost) feel the same.
Sampai hari ini aku punya sedikit waktu untuk berefeleksi tentang, yah apa yang sedang terjadi dengan kami belakang ini.
Akhirnya kuberanikan untuk menarik konklusi, bahwa, Chemistry is a gift, but it's kinda plant wich is need to growth. If we do not treat it properly it might not growth optimally or even die. And if cemistry is a plant the good communication is it's soil wich help its grow.
"COMMUNICATION". It's feels like I've failed, we've failed to keep the rock of our relationship.

Aku masih terngiang cerita bulek tentang 'wanita ingin diperjuangkan'. NO, it's not about the woman.
Bukan perempuannya yang perlu diperjuangkan tapi, relationshipnya.
It's not easy anyway to keep up the relationship as if its precious as your life.

It doen't Matter Who You are

When I decide to write about my acne story, it's ain't easy for sure

Rabu, 11 April 2018

Butuh Keberanian Besar untuk Memilih dan Memilikimu

Mulanya, aku sangat enggan untuk berbicara soal pasangan hidup. Satu hal, karena diusia ini, aku sudah mulai bukan lagi mencari tetapi memilih, pasangan hidup. Aku selalu berpatokan dengan hal-hal yang mutlak dan beberapa bahkan diluar porsiku sebagai manusia, sesuatu yang tidak bisa diusahakan oleh diriku sendiri. Aku berpikir bahwa memilih pasangan, adalah memilih jodoh permanen yang akan bukan sekedar menjadi pendamping, tetapi berdampingan dengan kita, seumur hidup. Aku selalu menekankan kata seumur hidup, sebagai bagian dari prinsip pernikahan monogami, yang selalu kutekankan kembali bahwa "waktu seumur hidup itu tidak sebentar untuk dihabiskan dengan orang yang salah". Lalu setelah itu aku menambahinya dengan embel embel yang menjadikannya (jujur) semakin (sangat) sulit. Seperti standar yang diukurkan perempuan manapun secara umum bahwa idealnya pasangan hidup bagi perempuan adalah yang seiman-mapan-tampan. Itupun kadang masih dijabarkan dengan embel-embel berikutnya, yang mungkin bisa bikin laki-laki ciut, semisal berpendidikan tinggi, punya rumah dan mobil sendiri, rajin beribadah dan bisa menjadi imam yang baik, jenjang karier yang menjanjikan (atau malah bisa jadi harus CEO, red. untuk para perempuan pecinta Wattpad?). Dan sadly, untuk generasi ini kebanyakan orang mencari pasangan hidup bukan untuk dirinya sendiri, bisa jadi bagi kebanyakan perempuan, mencari pasangan hidup adalah tentang prestice, pasangan hidup adalah tentang akan menjadi siapa kita bersama orang itu, tentang siapa yang dinikahinya, tentang siapa dengan pangkat atau gelar apa yang akan dibawa untuk orang tuanya sebagai menantu, siapa akan dinilai oleh sanak saudaranya ketika melamarnya apakah lebih baik atau tidak dengan menantu yang dibawa oleh sepupu-sepupunya, orang setampan apa yang bisa ia bawa dengan bangga ketika berkumpul dengan teman-teman sepergaulannya, bahkan brand apa yang bisa ia nafkahkan untuk keperluan sehari-hari kelak dan jutaan petengseng duniawi lainnya yang dilampirkan sebagai kriteria gila untuk memilih pasangan hidup yang ideal. Ya, memang kodrat manusia adalah untuk mencari dan ingin mencapai kesempurnaan, dan termasuk didalamnya adalah tentang memilih pasangan hidup, setiap orang pastinya memngingini untuk memiliki pasangan hidup yang sesempurna mungkin.
Aku, aku sendiri memiliki pemikiran yang sedikit berbeda, bukan berbeda mungkin tepatnya, berubah. Sungguh, beberapa pemikiran di atas pun pernah menghuni benakku juga sebagai normalnya perempuan. Untukku (sekarang) pasangan hidup adalah sepenuhnya milik kita, dan satu hal yang perlu sangat diperhatikan adalah, jangan pernah memilih pasangan hidup untuk kebahagiaan orang lain, memilih pasangan hidup adalah memilih kebahagiaan kita sendiri. Mungkin bisa menjadi alasan untuk orang lain berbahagia itu menyenangkan, tapi ku harap tidak untuk hal satu ini, yaitu pasangan hidup, seumur hidup kita sudah dipenuhi dengan hal-hal untuk menyengkan orang lain, menayanyi, berlomba, berprestasi, untuk membanggakan orang tua dan lain-lain. Tapi, pasangan hidup adalh sepenuhnya milikmu dan milik masa depanmu. Buatlah pengecualian besar untuk hal yang satu ini. Kita bisa melihat kebahagiaan seperti halnya bernapas,  setiap orang yang lahir di dunia ini diberi karunia untuk bernapas masing-masing dan tidak tergantung satu sama lain, begitu pula kebahagiaan, semesta sudah memberi jatah masing-masing kebahagian untuk setiap manusia, kebahagiaan kita tidak tegantung oleh siapapun selain diri kita sendiri. Sama halnya dengan bernafas, yang diatur oleh syaraf otonom yang mampu bekerja diluar kesedaran kita, dan untuk mengetahuinya kita perlu menyadarinya, maka kebahagiaan juga begitu, kitapun sering kali tidak menyadari bahwa kita bahagia.Proses dan usaha yang kita lakukan dalam menyadari bahwa kita bahagia itulah yang biasa orang bilang sebagai bersyukur. 
Hubungannya dengan pasangan hidup? Untukku, pasangan hidup bukan tentang kesempurnaan hidup apapun yang kelak akan membuat kita bahagia. Tetapi tentang kebahagiaan saat ini juga. Satu hal yang terpenting, adalah jangan pernah ada prinsip karena aku bahagia bersamanya, aku memilihnya sungguh, jangan pernah menggantungkan kebahagiaan kita pada orang lain selain diri kita sendiri. Siapapun tidak mungkin menginginkan kekecewan tentang pilihan apapun yang diambilnya, tetapi alangkah baiknya jika kita menjatuhkan pilihan kita akan pasangan hidup adalah dengan mengatakan aku bahagia memilihnya, sebuah pernyataan sederhana, yang tidak mengandung syarat, tidak mengandung alasan apapun. Pernyataan dari kebersyukuran kita, pada seseorang yang kita pilih. Untuk perjalanan hidup dan pemilihan pasangan hidup, kita sering mungkin menjumpai pernyataan "percayalah, kamu akan bahagia bersamaku" atau "aku akan berusaha membahagiakanmu", tapi... sekali lagi "our happiness does not dependent on anyone". Tidak ada hal yang sepenuhnya benar kita lakukan untuk membahagiakan orang yang kita sayangi, tidak ada cara yang mutlak, segalanya serba relatif. Maka, satu hal yang dapat kita usahakan adalah mengusahakan memberi yang terbaik dari yang kita mampu, tanpa mengharap sebaliknya. Kalau akhirnya apa yang kita lakukan atau berikan membuatnya bahagia, itu hanya bonus. Bukan sepenuhnya usaha yang kita lakukan semata-mata untuk membuatnya bahagia. 
At last but not least, pasangan hidup seperti apa yang akan membuat kita bahagia? Jangan pernah menilaikannya dengan presepsi orang lain. Tantang tepat atau tidak orang yang kita pilih, tentang cocok atau tidak orang yang kita cintai kelihatannya. Tapi tentang kebahagiaan yang kita temukan dalam diri kita  saat bersamanya, saat memilih dia. Yang kita tau dia adalah seseorang yang bersamanya, kita bersyukur boleh ada untuknya dan dia untuk kita. Dan untuk memilih kebahagiaan kita itu, terkadang memerlukan keberanian yang besar. Mengabaikan ketakutan ketakutan dan kekhawatiran tentang seseorang yang kita pilih.