Selasa, 02 Juni 2020

Anak



Anak itu sedang bermain dedaunan di halaman rumah, saat aku membuka pagar. Lesung pipi di pipi kanannnya melekuk manis saat ia membalas senyumku, itu lesung pipiku.

Anak itu rambutnya begitu legam, lurus, dipotong pendek. Matanya lebar, bening dan bola matanya berwarna cokelat gelap. Mata yang aku kenal sejak lama. Binarnya sama persis. Ada kepedulian sekaligus ribuan keingintahuan yang begitu dalam saat ia menatapku.

"Ibu." Panggilnya. Ia lalu meninggalkan tumpukan daun dan ranting-ranting yang sedang ia kumpulkan.

Aku memeluknya, rasanya belum enam jam aku meninggalkannya tapi rinduku yang bertumpuk-tumpuk luruh begitu saja saat tangan mungilnya memeluk pinggangku.

"Ibu lelah?" tanyanya, sambil mengambil alih tas jinjingku, lalu menuntunku masuk ke dalam rumah.

Ada yang bergegas membukakanku pintu, memelukku dan mengecup pipiku.

"Sana bersih-bersih dulu, aku baru selesai masak sayur kangkung." sambil mengacak-acak rambutku seperti yang sering dilakukannya  sejak sepuluh tahun lalu.

Aku membalasnya dengan senyuman bangga, seraya menghembuskan napas panjang. Rasanya tidak ada yang berubah, sejak rumah ini belum memiliki tiraipun aku selalu merasa pulang ketika membuka pintunya.


Rabu, 06 Mei 2020

A Lifetime Ran on A Race

"Selama ini kita hanya berputar-putar di sini." katamu

Ya sesuatu yang disebut progress adalah sebuah pergerakan maju, menunjukkan sesuatu yang berkembang dan dapat diukur. Lalu jika kita ukur sudah sejauh mana perjalanan ini. Karena perjalanan waktu adalah sesuatu yang tidak kasat mata, maka aku hendak menarasikan apa yang sudah kita lewati untuk tau seberapa jauh yang telah kita tempuh.

Sayangnya perjalanan ini bukan seperti lari estafet, yang kita bisa ukur kita sedang berlari di 100m  pertama atau 100m kedua atau seterusnya, dan jika 100m ke empat sudah ditempuh maka kita boleh jadi merasa aman karena sudah mendekati garis finish. Perjalanan yang kita jalani sayangnya tidak dapat diukur dengan panjangnya jarak yang kita sudah tempuh. Cinta adalah perjalanan seumur hidup dan mencintai adalah "a lifetime ran on a race".

Dulu, aku kerap berpikir, bahwa menikah adalah garis finish dari setiap komitmen, toleransi dan susah payah yang selama ini kita perjuangkan bersama. Menikah adalah akhir yang bahagia dari masa pacaran. Tetapi cinta nyatanya tidak demikian cara kerjanya. Kalau pernikahan adalah akhir dari perjalanan cinta, tentu tidak akan ada perceraian, perselingkuhan, pertikaian. Sayangnya kita tumbuh didunia yang menggambarkan bahwa pernikahan adalah kehidupan ideal yang harus diajalani setiap orang.

Nyatanya, pernikahan adalah frame yang dibentuk oleh norma sosial untuk mengijinkan orang yang saling mencintai tinggal bersama dengan nyaman tanpa stigma buruk dari masyarakat, sebenarnya apa pentingnya presepsi orang lain atas hidup kita, toh jika nantinya pernikahan kita tidak bahagia akan kembali mendapat nilai buruk dan pandangan negatif dari orang lain lagi?  Pernikan tidak lain adalah ukuran kemapanan untuk seorang anak, supaya dengan bebas menentukan jalan hidupnya sendiri dan lepas dari keluarga intinya, mengapa hidup mandiri harus diukur dengan pernikahan, bukankah pernikahan hanyalah membedakan status pada catatan kartu keluarga? Pernikahan adalah ikatan sakral yang memiliki keabsahan dimata agama dan hukum, lagi-lagi tentang norma kan?

Aku perlahan mulai kehilangan nilai dari pernikahan yang aku coba hidupi selama ini. Aku selalu mencoba mengangkat bahwa cintalah yang lebih unggul dibandingkan dengan pernikahan. Karena pernikahan mungkin saja baru titik 100m pertama lari estafet perjalanan cinta seseorang, kecuali jika nilai yang hidupi adalah "cinta karena terbiasa" maka nikahilah pohon bayam, dengan terbiasa hidup bersama maka kamu akan mencintainya. Seremeh itukah cinta?

Aku terbiasa memandang cinta ssebagai sesuatu yang sakral, sepertihalnya warna bola mata saat kita lahir, kita tidak bisa memilihnya, itu datang dengan sendirinya. Seperti zing yang terjadi pada Mavis, Semesta yang membuat cinta terlahir dalam perasaan kita. Untukku, cinta adalah alasan kenapa kita bisa merelakan ego kita terluka untuk mengahargai orang yang kita cintai. Cinta adalah alasan kita tetap ingin hidup dan tetap berpengharapan, karena ingin melihat orang yang kita cintai. Cinta adalah alasan kita mau berubah dan bertumbuh menjadi versi terbaik dari diri kita, walau sulit, karena kita ingin orang yang kita cintai menerima pasangan yang layak untuknya.

Sayangnya, nilai ini tidak mudah untuk dihidupi. Terlebih, jika orang yang kita cintai tidak menilai dengan sepadan tentang nilai yang kita hidupi.

Kamis, 23 April 2020

Secarik cerita tentang Senggani.id



Awal mula senggani lahir dari buah pikiranku yang hobi ngeblog sekitar akhir 2012. Lahirlah senggani.inscription.blogspot.com Hampir setiap hari aku menulis di blog sebagai jurnal pribadi. Angan-angan yang terbesit saat itu adalah untuk menaikan view dan mendaftar ad-sense. Tapi adsense ternyata tidak sebatas view tapi juga konsistensi konten. Sementara jurnal harian random yang ditulis sesuai mood dan tergantung apa yang sedang dipikirkan jelas bukan pasar yang bagus untuk adsense. Dengan bijaksana google menolak permohonan ad-senseku.


sekitar 2014 saat aku mulai menggunakan instagram, lahirlah senggani_preloved terinspirasi dari akun temanku yang menjual baju-baju layak pakai, aku memanfaatkan platform instagram untuk menjual baju-baju yang tidak sering kupakai, buku-buku atau novel yang sudah selesai aku baca dan skin-care hasil coba-coba yang tidak cocok dan aku tinggalkan. Beberapa buku berhasil mendarat ke tangan pengadopsinya (sebagian lagi kembali masuk kedalam kardus karena pada akhirnya tidak terikhlaskan untuk dimiliki orang lain), baju yang akhirnya didonasikan sebagian untuk korban bencana dan sebagian lagi untuk lap pel dan keset. Dan yang membuat ini berakhir tepatnya satu dari beberapa costumer skincare yang menuduhku penipu karena paketnya belum sampai selama seminggu, kemudian dia meneror semua akun sosial mediaku. Senggani_preloved selesai di sini tapi ini bukan akhir. Tidak ada kerugian berarti dari gulung tikarnya Senggani_preloved karena modalnya Rp.0 dan kalaupun closed store ini tetap sebuah pencapaian pertama Senggani. Nominal Rp. 129.000 cukup untuk memenuhi hasrat keingintahuanku.
Beberapa bulan 2015 awal kemudian Senggani lahir kembali dengan wajah baru dan idealismenya sebagai platform jualan Senggani_artandcraft menjadi nama beken yang dipilih untuk  wadah menjual gelang-gelang yang sebagian hasil daur ulang dan sebagian lagi hasil kerajinan tangan. Ide ini terinspirasi kembali dari orang yang sama yang membuatku melahirkan senggani waktu lalu. Melihat karya kerajinan tangan Mbak Wina dan pacarnya yang punya followers banyak dan membawanya melahirkan brand yang keren Fond Indonesia dengan 50ribu followers dan harga yang tidak mahal tapi konsumen melimpah, tentu saja gelang anyam mudah dibuat. Dengan impulsifitas tinggi bermodalkan kesok-tahuan tiada tara. Aku langsung memborong bahan-bahan craft sebagian dari pasar sebagian lagi dari online. Dengan tigapuluhan hasil karya dengan percaya diri kupasarkan kepada teman-teman sekelas dan teman-teman kost. Viola, dalam dua minggu tidak ada respons positif dari siapapun. Aku masih belum menyerah (tepatnya keras kepala) dan melanjutkan ekspansiku dengan personal chat secara lebih persuasif. Dua korban berjatuhan, dan aku menghasilkan Rp.37.000 pertama dari bisnis yang tadinya kuimpikan bisa membawaku launching produk dengan keren di masa depan. But who knows. Setelah dua penjualan itu tidak lagi ada proses menganyam benang dan merangkai manik-manik. mimpi itu menguap begitu saja dengan kesibukan nugas kuliah dan ngajar les serta vounteering di rumah belajar. Modal awal sebesar Rp. 170.000 itu akhirnya menguap begitu saja.

KeripikPegagan Instagram posts (photos and videos) - Picuki.com 
Kerugian uang jajan yang cukup besar untuk anak kuliahan itu akhirnya hampir membuatnya kapok. Sampai 2017 akhir berbekal oleh-oleh yang dipesan oleh Ibu-ibu komunitas di kantor Senggani Lahir kembali sebagai Senggani_healthysnack. Keripik daun pegagan itu naik daun di kalangan Ibu-ibu pecinta healthy food. Kupercayakan kepercayaan mereka kepadaku pada Mbak Nia yang siap menggoreng dan memaketken pegagan supernya. Bermodalkan relasi yang baik dengan Mbak Nia sahabat pena zaman dahulu kala dan plastik ziplock seharga 40ribu berdirilah Senggani_healthysnack dengan percayadiri. Custom dari pelanggan yang agak rewel karena tidak mau pakai telur dan tidak pakai micin, dan pakai minyak kelapa akhirya panganan yang diklaim sehat ini harganya berhasil naik pesat. 4kg untuk sekali pengiriman cukup menguras modal pada awalnya. harga asli Rp. 40.000/kg dan ongkos kirim 60ribu per pengiriman dari Mbak Nia ku jual Rp 25.000 per seperempat kilo. Sempat ku tawarkan di koperasi kampus, tapi gagal karena supervisor koperasi kampus tidak makan sayur, yah anggap saja itu kemalangan yang tidak terprediksi. Marketing yang cukup lumayan untuk lulusan Sarjana Pendidikan. aku meraup untung yang cukup lumayan selama lima kali pemesanan . Akhirnya reseller pegagan inipun menyerah karena distributor kesulitan mencari bahan di musim kemarau, sehingga banyak pesanan macet. Disinilah akhir dari Senggani_healthysnack yang membanggakan. Tidak berhenti disini, sisa plastik ziplock bekas penjualan keripik pegaganpun berhasil kembali meraup keuntungan ketika dijajakan sebagai plastik anti tumpah anti bocor dan anti ribet di Gelora Bung Karno saat pertandingan Tim Nas.


Pertengahan 2018 bermula dari tidak bisa menolak bisikan MLM akupun kembali menyulap toko Senggani kecintaan menjadi Senggani_skincare. Teman kantor yang tidak pernah patah semangat merayuku untuk menjadi downlinenya berhasil membuatku menghabiskan Rp. 600.000 dengan setengah sadar. Ketika kuamati hasil belanjaanku tidak ada satupun produk yang biasa kugunakan atau cocok denganku. Jadilah Senggani_skincare kubuat untuk menjual semua produk oriflame hasil kelatahan bergabung MLM. See, tidak ada yang mau membeli seberpapun gencar aku mengiklankannya. Jelas saja karena produknya terlalu pricey. Dan menjual produk orang lain, it's just not for me. Akhirnya bodycare kubungkus untuk kado ulang tahun temanku, body butter ku jadikan untuk christmast gift tetangga kamarku dan parfum juga kukirim untuk ulang tahun sahabatku, juga jam tangan yang ku berikan pada mama sebagai kado hari ibu, masker kuberikan adikku yang berakhir jerawatan. Sungguh penyesalan memang datangnya belakangan. Beginilah bagaimana  Senggani_skincare tamat.

Mejelang pertengahan 2019, berawal dari aku yang mulai rutin melakukan yoga dan relaksasi. Suatu pagi, ketika yoga bersama komunitas di Taman Kota Tebet, hadirlah seorang instruktur yang mengoleskan minyak aromaterapi pada buku-buku tangan setelah pranayama, dan savasanaku rasanya bisa deep dan lelap. Sepulang yoga, aku mulai searching mengenai aroma therapy. Certified organic aroma therapy harganya sungguh tidak masuk akal. Dan aku mencoba mengakali dengan mencari alternatif penggunaan aromaterapi, salah satu alternatifnya adalah lilin aromaterapi. Sayangnya harga lilin aromaterapi unggulan dipasaran tidak kalah gila. Begitu saja muncul Eureka, untuk membuat sendiri lilin aroma terapi. Ini ide yang bagus untuk dipasarkan ke teman-teman yoga atau teman-teman meditasi. Sambil merapalkan doa, kuberanikan kembali menghadirkan Senggani_id . Lagi lagi memang kekuatanku adalah impulsivitas. Kuberanikan diri mengambil resiko dengan meminjam modal Rp.700.000 dengan meminjam modal aku berharap bahwa akan ada beban tanggung jawab, untuk apa yang sudah kumulai supaya modal itu dapat kembali kepada pemiliknya. Kubelanjakan sampai habis, untuk semua bahan. Berbekal tutorial di Youtube dan tidak menyerah untuk trial and error aku mencoba berkali-kali setiap metode dan presentasi. 26 gelas lilin pertama laku terjual disusul dua ata tiga gelas berikutnya yang berarti modal awal sudah kembali, dan tersisa modal investasi. Rp. 700.000 berhasil kukembalikan kepada pemilik modal dan total keuntungan pertama kuberikan untuk donasi retreat komunitas rohaniku. Aku tidak untung besar, belum matang dalam perhitungan dan tidak pakar dari marketing. Tapi terbesit kebahagiaan saat berhasil mengirimkan lilin-lilin ini kepada orang - orang yang menginginkannya. Terlebih mengiriminya untuk teman yang ulang tahun, rasanya ada kebahagiaan tersendiri ketika tidak harus membeli dan cukup mengirimkan buatan tangan sendiri. Dari semua hal yang pernah kujalani, yang paling berharga adalah hal yang dibuat dengan cinta dan kesepenuhatian.


Senggani, riwayatmu kini...
Aku berharap, dengan makna filosofis yang kuambil, senggani menjadi rapalan doa tentang harapan yang tidak pernah mati, seperti halnya senggani yang tegar menantang musim, kuat berakar dibelukar dan tetap indah walau liar. Senggani menjadi mantra sakral yang membungkus setiap harapan dengan keberanian. Amin.