"Selama ini kita hanya berputar-putar di sini." katamu
Ya sesuatu yang disebut progress adalah sebuah pergerakan maju, menunjukkan sesuatu yang berkembang dan dapat diukur. Lalu jika kita ukur sudah sejauh mana perjalanan ini. Karena perjalanan waktu adalah sesuatu yang tidak kasat mata, maka aku hendak menarasikan apa yang sudah kita lewati untuk tau seberapa jauh yang telah kita tempuh.
Sayangnya perjalanan ini bukan seperti lari estafet, yang kita bisa ukur kita sedang berlari di 100m pertama atau 100m kedua atau seterusnya, dan jika 100m ke empat sudah ditempuh maka kita boleh jadi merasa aman karena sudah mendekati garis finish. Perjalanan yang kita jalani sayangnya tidak dapat diukur dengan panjangnya jarak yang kita sudah tempuh. Cinta adalah perjalanan seumur hidup dan mencintai adalah "a lifetime ran on a race".
Dulu, aku kerap berpikir, bahwa menikah adalah garis finish dari setiap komitmen, toleransi dan susah payah yang selama ini kita perjuangkan bersama. Menikah adalah akhir yang bahagia dari masa pacaran. Tetapi cinta nyatanya tidak demikian cara kerjanya. Kalau pernikahan adalah akhir dari perjalanan cinta, tentu tidak akan ada perceraian, perselingkuhan, pertikaian. Sayangnya kita tumbuh didunia yang menggambarkan bahwa pernikahan adalah kehidupan ideal yang harus diajalani setiap orang.
Nyatanya, pernikahan adalah frame yang dibentuk oleh norma sosial untuk mengijinkan orang yang saling mencintai tinggal bersama dengan nyaman tanpa stigma buruk dari masyarakat, sebenarnya apa pentingnya presepsi orang lain atas hidup kita, toh jika nantinya pernikahan kita tidak bahagia akan kembali mendapat nilai buruk dan pandangan negatif dari orang lain lagi? Pernikan tidak lain adalah ukuran kemapanan untuk seorang anak, supaya dengan bebas menentukan jalan hidupnya sendiri dan lepas dari keluarga intinya, mengapa hidup mandiri harus diukur dengan pernikahan, bukankah pernikahan hanyalah membedakan status pada catatan kartu keluarga? Pernikahan adalah ikatan sakral yang memiliki keabsahan dimata agama dan hukum, lagi-lagi tentang norma kan?
Aku perlahan mulai kehilangan nilai dari pernikahan yang aku coba hidupi selama ini. Aku selalu mencoba mengangkat bahwa cintalah yang lebih unggul dibandingkan dengan pernikahan. Karena pernikahan mungkin saja baru titik 100m pertama lari estafet perjalanan cinta seseorang, kecuali jika nilai yang hidupi adalah "cinta karena terbiasa" maka nikahilah pohon bayam, dengan terbiasa hidup bersama maka kamu akan mencintainya. Seremeh itukah cinta?
Aku terbiasa memandang cinta ssebagai sesuatu yang sakral, sepertihalnya warna bola mata saat kita lahir, kita tidak bisa memilihnya, itu datang dengan sendirinya. Seperti zing yang terjadi pada Mavis, Semesta yang membuat cinta terlahir dalam perasaan kita. Untukku, cinta adalah alasan kenapa kita bisa merelakan ego kita terluka untuk mengahargai orang yang kita cintai. Cinta adalah alasan kita tetap ingin hidup dan tetap berpengharapan, karena ingin melihat orang yang kita cintai. Cinta adalah alasan kita mau berubah dan bertumbuh menjadi versi terbaik dari diri kita, walau sulit, karena kita ingin orang yang kita cintai menerima pasangan yang layak untuknya.
Sayangnya, nilai ini tidak mudah untuk dihidupi. Terlebih, jika orang yang kita cintai tidak menilai dengan sepadan tentang nilai yang kita hidupi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar