Kamis, 23 April 2020

Secarik cerita tentang Senggani.id



Awal mula senggani lahir dari buah pikiranku yang hobi ngeblog sekitar akhir 2012. Lahirlah senggani.inscription.blogspot.com Hampir setiap hari aku menulis di blog sebagai jurnal pribadi. Angan-angan yang terbesit saat itu adalah untuk menaikan view dan mendaftar ad-sense. Tapi adsense ternyata tidak sebatas view tapi juga konsistensi konten. Sementara jurnal harian random yang ditulis sesuai mood dan tergantung apa yang sedang dipikirkan jelas bukan pasar yang bagus untuk adsense. Dengan bijaksana google menolak permohonan ad-senseku.


sekitar 2014 saat aku mulai menggunakan instagram, lahirlah senggani_preloved terinspirasi dari akun temanku yang menjual baju-baju layak pakai, aku memanfaatkan platform instagram untuk menjual baju-baju yang tidak sering kupakai, buku-buku atau novel yang sudah selesai aku baca dan skin-care hasil coba-coba yang tidak cocok dan aku tinggalkan. Beberapa buku berhasil mendarat ke tangan pengadopsinya (sebagian lagi kembali masuk kedalam kardus karena pada akhirnya tidak terikhlaskan untuk dimiliki orang lain), baju yang akhirnya didonasikan sebagian untuk korban bencana dan sebagian lagi untuk lap pel dan keset. Dan yang membuat ini berakhir tepatnya satu dari beberapa costumer skincare yang menuduhku penipu karena paketnya belum sampai selama seminggu, kemudian dia meneror semua akun sosial mediaku. Senggani_preloved selesai di sini tapi ini bukan akhir. Tidak ada kerugian berarti dari gulung tikarnya Senggani_preloved karena modalnya Rp.0 dan kalaupun closed store ini tetap sebuah pencapaian pertama Senggani. Nominal Rp. 129.000 cukup untuk memenuhi hasrat keingintahuanku.
Beberapa bulan 2015 awal kemudian Senggani lahir kembali dengan wajah baru dan idealismenya sebagai platform jualan Senggani_artandcraft menjadi nama beken yang dipilih untuk  wadah menjual gelang-gelang yang sebagian hasil daur ulang dan sebagian lagi hasil kerajinan tangan. Ide ini terinspirasi kembali dari orang yang sama yang membuatku melahirkan senggani waktu lalu. Melihat karya kerajinan tangan Mbak Wina dan pacarnya yang punya followers banyak dan membawanya melahirkan brand yang keren Fond Indonesia dengan 50ribu followers dan harga yang tidak mahal tapi konsumen melimpah, tentu saja gelang anyam mudah dibuat. Dengan impulsifitas tinggi bermodalkan kesok-tahuan tiada tara. Aku langsung memborong bahan-bahan craft sebagian dari pasar sebagian lagi dari online. Dengan tigapuluhan hasil karya dengan percaya diri kupasarkan kepada teman-teman sekelas dan teman-teman kost. Viola, dalam dua minggu tidak ada respons positif dari siapapun. Aku masih belum menyerah (tepatnya keras kepala) dan melanjutkan ekspansiku dengan personal chat secara lebih persuasif. Dua korban berjatuhan, dan aku menghasilkan Rp.37.000 pertama dari bisnis yang tadinya kuimpikan bisa membawaku launching produk dengan keren di masa depan. But who knows. Setelah dua penjualan itu tidak lagi ada proses menganyam benang dan merangkai manik-manik. mimpi itu menguap begitu saja dengan kesibukan nugas kuliah dan ngajar les serta vounteering di rumah belajar. Modal awal sebesar Rp. 170.000 itu akhirnya menguap begitu saja.

KeripikPegagan Instagram posts (photos and videos) - Picuki.com 
Kerugian uang jajan yang cukup besar untuk anak kuliahan itu akhirnya hampir membuatnya kapok. Sampai 2017 akhir berbekal oleh-oleh yang dipesan oleh Ibu-ibu komunitas di kantor Senggani Lahir kembali sebagai Senggani_healthysnack. Keripik daun pegagan itu naik daun di kalangan Ibu-ibu pecinta healthy food. Kupercayakan kepercayaan mereka kepadaku pada Mbak Nia yang siap menggoreng dan memaketken pegagan supernya. Bermodalkan relasi yang baik dengan Mbak Nia sahabat pena zaman dahulu kala dan plastik ziplock seharga 40ribu berdirilah Senggani_healthysnack dengan percayadiri. Custom dari pelanggan yang agak rewel karena tidak mau pakai telur dan tidak pakai micin, dan pakai minyak kelapa akhirya panganan yang diklaim sehat ini harganya berhasil naik pesat. 4kg untuk sekali pengiriman cukup menguras modal pada awalnya. harga asli Rp. 40.000/kg dan ongkos kirim 60ribu per pengiriman dari Mbak Nia ku jual Rp 25.000 per seperempat kilo. Sempat ku tawarkan di koperasi kampus, tapi gagal karena supervisor koperasi kampus tidak makan sayur, yah anggap saja itu kemalangan yang tidak terprediksi. Marketing yang cukup lumayan untuk lulusan Sarjana Pendidikan. aku meraup untung yang cukup lumayan selama lima kali pemesanan . Akhirnya reseller pegagan inipun menyerah karena distributor kesulitan mencari bahan di musim kemarau, sehingga banyak pesanan macet. Disinilah akhir dari Senggani_healthysnack yang membanggakan. Tidak berhenti disini, sisa plastik ziplock bekas penjualan keripik pegaganpun berhasil kembali meraup keuntungan ketika dijajakan sebagai plastik anti tumpah anti bocor dan anti ribet di Gelora Bung Karno saat pertandingan Tim Nas.


Pertengahan 2018 bermula dari tidak bisa menolak bisikan MLM akupun kembali menyulap toko Senggani kecintaan menjadi Senggani_skincare. Teman kantor yang tidak pernah patah semangat merayuku untuk menjadi downlinenya berhasil membuatku menghabiskan Rp. 600.000 dengan setengah sadar. Ketika kuamati hasil belanjaanku tidak ada satupun produk yang biasa kugunakan atau cocok denganku. Jadilah Senggani_skincare kubuat untuk menjual semua produk oriflame hasil kelatahan bergabung MLM. See, tidak ada yang mau membeli seberpapun gencar aku mengiklankannya. Jelas saja karena produknya terlalu pricey. Dan menjual produk orang lain, it's just not for me. Akhirnya bodycare kubungkus untuk kado ulang tahun temanku, body butter ku jadikan untuk christmast gift tetangga kamarku dan parfum juga kukirim untuk ulang tahun sahabatku, juga jam tangan yang ku berikan pada mama sebagai kado hari ibu, masker kuberikan adikku yang berakhir jerawatan. Sungguh penyesalan memang datangnya belakangan. Beginilah bagaimana  Senggani_skincare tamat.

Mejelang pertengahan 2019, berawal dari aku yang mulai rutin melakukan yoga dan relaksasi. Suatu pagi, ketika yoga bersama komunitas di Taman Kota Tebet, hadirlah seorang instruktur yang mengoleskan minyak aromaterapi pada buku-buku tangan setelah pranayama, dan savasanaku rasanya bisa deep dan lelap. Sepulang yoga, aku mulai searching mengenai aroma therapy. Certified organic aroma therapy harganya sungguh tidak masuk akal. Dan aku mencoba mengakali dengan mencari alternatif penggunaan aromaterapi, salah satu alternatifnya adalah lilin aromaterapi. Sayangnya harga lilin aromaterapi unggulan dipasaran tidak kalah gila. Begitu saja muncul Eureka, untuk membuat sendiri lilin aroma terapi. Ini ide yang bagus untuk dipasarkan ke teman-teman yoga atau teman-teman meditasi. Sambil merapalkan doa, kuberanikan kembali menghadirkan Senggani_id . Lagi lagi memang kekuatanku adalah impulsivitas. Kuberanikan diri mengambil resiko dengan meminjam modal Rp.700.000 dengan meminjam modal aku berharap bahwa akan ada beban tanggung jawab, untuk apa yang sudah kumulai supaya modal itu dapat kembali kepada pemiliknya. Kubelanjakan sampai habis, untuk semua bahan. Berbekal tutorial di Youtube dan tidak menyerah untuk trial and error aku mencoba berkali-kali setiap metode dan presentasi. 26 gelas lilin pertama laku terjual disusul dua ata tiga gelas berikutnya yang berarti modal awal sudah kembali, dan tersisa modal investasi. Rp. 700.000 berhasil kukembalikan kepada pemilik modal dan total keuntungan pertama kuberikan untuk donasi retreat komunitas rohaniku. Aku tidak untung besar, belum matang dalam perhitungan dan tidak pakar dari marketing. Tapi terbesit kebahagiaan saat berhasil mengirimkan lilin-lilin ini kepada orang - orang yang menginginkannya. Terlebih mengiriminya untuk teman yang ulang tahun, rasanya ada kebahagiaan tersendiri ketika tidak harus membeli dan cukup mengirimkan buatan tangan sendiri. Dari semua hal yang pernah kujalani, yang paling berharga adalah hal yang dibuat dengan cinta dan kesepenuhatian.


Senggani, riwayatmu kini...
Aku berharap, dengan makna filosofis yang kuambil, senggani menjadi rapalan doa tentang harapan yang tidak pernah mati, seperti halnya senggani yang tegar menantang musim, kuat berakar dibelukar dan tetap indah walau liar. Senggani menjadi mantra sakral yang membungkus setiap harapan dengan keberanian. Amin.

Jumat, 03 Mei 2019

Bottle Picker

No need a Mr. Right, just a bottle picker is perfect enough.

Adalah permenungan singkat tentang botol ketinggalan.



Sejatinya aku tidak pelupa, aku inget kejadian-kejadian penting dalam hidupku. Termasuk kejadian kehilangan botol minum karena ketinggalan. Di stasiun, di minimarket, di kelas dan dibanyak tempat.

Kamis, 18 Oktober 2018

Ketika Semua Tak Lagi Sama

Ini percakapan semalam. Adalah tentang hubungan yang sudah dijalani selama empat tahun enam bulan. Atau berapapun itu, tak penting rasanya seberapa lama.
Dulu, rasanya setiap hal rasanya menarik untuk diceritakan, semua hal rasanya menarik untuk dibahas.
Sampai beberapa malam ini, kami hampir mengahbiskan 1 jam hanya dengan beberapa pertanyaan dan jawaban yang begitu singkat, dijeda dengan diam yang lebih panjang daripada apa yang dibicarakan.
Dirasa-rasa ini cukup mengkhawatirkan. sudah seminggu atau lebih, yang bisa kami asumsikan dengan 'belakangan ini'.
Dulu rasanya percakapan begitu hangat dan mudah saja ngalir, kadang hingga tengah malam atau dini hari. Belakangan ini rasanya ngobrol satu jam pun mulai melelahkan, karena sampai mencari-cari apa yang harus diceritakan apa yang harus ditanyakan.
Apa yang salah, siapa yang salah.
Menurutku...
It's not about we don't care.
It's not about we don't love each other anymore.
 And I believe that chemistry is last forever.
Lalu apa yang salah. Jujur aku paling benci ketika ada teman yang bercerita tentang mereka yang mulai jenuh dengan hubungan yang sedang mereka jalani.
Wich is, to be honest... I (almost) feel the same.
Sampai hari ini aku punya sedikit waktu untuk berefeleksi tentang, yah apa yang sedang terjadi dengan kami belakang ini.
Akhirnya kuberanikan untuk menarik konklusi, bahwa, Chemistry is a gift, but it's kinda plant wich is need to growth. If we do not treat it properly it might not growth optimally or even die. And if cemistry is a plant the good communication is it's soil wich help its grow.
"COMMUNICATION". It's feels like I've failed, we've failed to keep the rock of our relationship.

Aku masih terngiang cerita bulek tentang 'wanita ingin diperjuangkan'. NO, it's not about the woman.
Bukan perempuannya yang perlu diperjuangkan tapi, relationshipnya.
It's not easy anyway to keep up the relationship as if its precious as your life.

It doen't Matter Who You are

When I decide to write about my acne story, it's ain't easy for sure

Rabu, 11 April 2018

Butuh Keberanian Besar untuk Memilih dan Memilikimu

Mulanya, aku sangat enggan untuk berbicara soal pasangan hidup. Satu hal, karena diusia ini, aku sudah mulai bukan lagi mencari tetapi memilih, pasangan hidup. Aku selalu berpatokan dengan hal-hal yang mutlak dan beberapa bahkan diluar porsiku sebagai manusia, sesuatu yang tidak bisa diusahakan oleh diriku sendiri. Aku berpikir bahwa memilih pasangan, adalah memilih jodoh permanen yang akan bukan sekedar menjadi pendamping, tetapi berdampingan dengan kita, seumur hidup. Aku selalu menekankan kata seumur hidup, sebagai bagian dari prinsip pernikahan monogami, yang selalu kutekankan kembali bahwa "waktu seumur hidup itu tidak sebentar untuk dihabiskan dengan orang yang salah". Lalu setelah itu aku menambahinya dengan embel embel yang menjadikannya (jujur) semakin (sangat) sulit. Seperti standar yang diukurkan perempuan manapun secara umum bahwa idealnya pasangan hidup bagi perempuan adalah yang seiman-mapan-tampan. Itupun kadang masih dijabarkan dengan embel-embel berikutnya, yang mungkin bisa bikin laki-laki ciut, semisal berpendidikan tinggi, punya rumah dan mobil sendiri, rajin beribadah dan bisa menjadi imam yang baik, jenjang karier yang menjanjikan (atau malah bisa jadi harus CEO, red. untuk para perempuan pecinta Wattpad?). Dan sadly, untuk generasi ini kebanyakan orang mencari pasangan hidup bukan untuk dirinya sendiri, bisa jadi bagi kebanyakan perempuan, mencari pasangan hidup adalah tentang prestice, pasangan hidup adalah tentang akan menjadi siapa kita bersama orang itu, tentang siapa yang dinikahinya, tentang siapa dengan pangkat atau gelar apa yang akan dibawa untuk orang tuanya sebagai menantu, siapa akan dinilai oleh sanak saudaranya ketika melamarnya apakah lebih baik atau tidak dengan menantu yang dibawa oleh sepupu-sepupunya, orang setampan apa yang bisa ia bawa dengan bangga ketika berkumpul dengan teman-teman sepergaulannya, bahkan brand apa yang bisa ia nafkahkan untuk keperluan sehari-hari kelak dan jutaan petengseng duniawi lainnya yang dilampirkan sebagai kriteria gila untuk memilih pasangan hidup yang ideal. Ya, memang kodrat manusia adalah untuk mencari dan ingin mencapai kesempurnaan, dan termasuk didalamnya adalah tentang memilih pasangan hidup, setiap orang pastinya memngingini untuk memiliki pasangan hidup yang sesempurna mungkin.
Aku, aku sendiri memiliki pemikiran yang sedikit berbeda, bukan berbeda mungkin tepatnya, berubah. Sungguh, beberapa pemikiran di atas pun pernah menghuni benakku juga sebagai normalnya perempuan. Untukku (sekarang) pasangan hidup adalah sepenuhnya milik kita, dan satu hal yang perlu sangat diperhatikan adalah, jangan pernah memilih pasangan hidup untuk kebahagiaan orang lain, memilih pasangan hidup adalah memilih kebahagiaan kita sendiri. Mungkin bisa menjadi alasan untuk orang lain berbahagia itu menyenangkan, tapi ku harap tidak untuk hal satu ini, yaitu pasangan hidup, seumur hidup kita sudah dipenuhi dengan hal-hal untuk menyengkan orang lain, menayanyi, berlomba, berprestasi, untuk membanggakan orang tua dan lain-lain. Tapi, pasangan hidup adalh sepenuhnya milikmu dan milik masa depanmu. Buatlah pengecualian besar untuk hal yang satu ini. Kita bisa melihat kebahagiaan seperti halnya bernapas,  setiap orang yang lahir di dunia ini diberi karunia untuk bernapas masing-masing dan tidak tergantung satu sama lain, begitu pula kebahagiaan, semesta sudah memberi jatah masing-masing kebahagian untuk setiap manusia, kebahagiaan kita tidak tegantung oleh siapapun selain diri kita sendiri. Sama halnya dengan bernafas, yang diatur oleh syaraf otonom yang mampu bekerja diluar kesedaran kita, dan untuk mengetahuinya kita perlu menyadarinya, maka kebahagiaan juga begitu, kitapun sering kali tidak menyadari bahwa kita bahagia.Proses dan usaha yang kita lakukan dalam menyadari bahwa kita bahagia itulah yang biasa orang bilang sebagai bersyukur. 
Hubungannya dengan pasangan hidup? Untukku, pasangan hidup bukan tentang kesempurnaan hidup apapun yang kelak akan membuat kita bahagia. Tetapi tentang kebahagiaan saat ini juga. Satu hal yang terpenting, adalah jangan pernah ada prinsip karena aku bahagia bersamanya, aku memilihnya sungguh, jangan pernah menggantungkan kebahagiaan kita pada orang lain selain diri kita sendiri. Siapapun tidak mungkin menginginkan kekecewan tentang pilihan apapun yang diambilnya, tetapi alangkah baiknya jika kita menjatuhkan pilihan kita akan pasangan hidup adalah dengan mengatakan aku bahagia memilihnya, sebuah pernyataan sederhana, yang tidak mengandung syarat, tidak mengandung alasan apapun. Pernyataan dari kebersyukuran kita, pada seseorang yang kita pilih. Untuk perjalanan hidup dan pemilihan pasangan hidup, kita sering mungkin menjumpai pernyataan "percayalah, kamu akan bahagia bersamaku" atau "aku akan berusaha membahagiakanmu", tapi... sekali lagi "our happiness does not dependent on anyone". Tidak ada hal yang sepenuhnya benar kita lakukan untuk membahagiakan orang yang kita sayangi, tidak ada cara yang mutlak, segalanya serba relatif. Maka, satu hal yang dapat kita usahakan adalah mengusahakan memberi yang terbaik dari yang kita mampu, tanpa mengharap sebaliknya. Kalau akhirnya apa yang kita lakukan atau berikan membuatnya bahagia, itu hanya bonus. Bukan sepenuhnya usaha yang kita lakukan semata-mata untuk membuatnya bahagia. 
At last but not least, pasangan hidup seperti apa yang akan membuat kita bahagia? Jangan pernah menilaikannya dengan presepsi orang lain. Tantang tepat atau tidak orang yang kita pilih, tentang cocok atau tidak orang yang kita cintai kelihatannya. Tapi tentang kebahagiaan yang kita temukan dalam diri kita  saat bersamanya, saat memilih dia. Yang kita tau dia adalah seseorang yang bersamanya, kita bersyukur boleh ada untuknya dan dia untuk kita. Dan untuk memilih kebahagiaan kita itu, terkadang memerlukan keberanian yang besar. Mengabaikan ketakutan ketakutan dan kekhawatiran tentang seseorang yang kita pilih.