Senin, 23 Oktober 2017

Jangan Sekalipun, Kamu Pergi dengan Perempuanmu Menangis di Belakangmu

Mengapa perempuan mudah sekali menangis, jika dibandingkan dengan laki-laki? 
Jawabannya sederhana, karena perempuan dilahirkan dengan anatomi tubuh berbeda dengan laki-laki. 
Salah satu jurnal menyebutkan bahwa kelenjar air mata laki-laki memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan kelenjar air mata perempuan, sehingga air matanya tidak mudah menetes. Kemudian secara hormonal, air mata perempuan dipengaruhi pula oleh hormon prolaktin. Fakta ini jelas bukan bermaksud sekedar sebagai pembelaan bahwa perempuan menangis karena ia cengeng. Tetapi menagis adalah cara paling sehat secara psikologis bagi perempuan untuk mengekspresikan emosinya. Ketika perempuan menangis, dapat terjadi karena adanya suatu mekanisme di dalam tubuh seperti pelepasan oksitosin atau opioid endogen yang dipengaruhi oleh situasi emosional (seperti sedih, marah atau terharu) yang menstimulasi cabang saraf parasimpatik dari sistem saraf autonom, dimana kedua syaraf tersebut merupakan syaraf yang bekerja diluar kesadaran (note: buka lagi buku biologi SMP sistem syaraf manusia) yang dengan demikian berarti tidak ada perempuan yang sengaja menangis. Maka menangis adalah ekspresi emosional yang sehat dan wajar secara psikologis maupun neurologis.

Baik, anggaplah pendekatan ilmiah diatas sudah mendekati cukup untuk menyatakan bahwa secara kodrati, sangatlah wajar dan lumrah jika perempuan menangis untuk mengekspresikan rasanya. Dan jika masih ada anggapan bahwa menagis itu memalukan, anggaplah itu adalah hanya perspekstif sosial yang selama ini  secara tidak langsung dipelihara di masyarakat, yNag menurut pendapat pribadi saya adalah pendapat yang keliru.

Saya kemudian ingat respons adik saya beberapa pekan lalu, ketika saya menangis di ruang publik. Suatu pagi, saya dan adik saja dalam perjalanan pulang, baru saja turun dari kereta, saat kami berjalan di trotoar rambut saya dijambak oleh orang gila. Sebagai ekspresi kaget dan takut, saya menangis, saya yang lemas kemudian duduk di trotoar masih terus menangis. Adik saya membiarkan saya menangis, dan justru duduk di samping saya, dia hanya mengulurkan sebotol air mineral untuk saya, sambil mengusap dan menepuk punggung saya dan menunggu saya sampai selesai menangis. Yang akan saya refleksikan adalah mengenai dari respons adik saya terhadap kakaknya yang menangis. Ketika tidak ada sama sekali kata-kata "Udah mbak malu dilihatin orang banyak" atau "Udah mbak, diem nggak usah nangis, udah nangisnya." saya kemudian dengan bangga membenarkan respons adik saya yang hanya memilih diam, duduk menemani saya dan menunggu saya sampai saya selesai menagis. Respons dari adik saya itu saya rasa adalah respons yang paling tepat untuk mengahadapi orang yang menangis.

Berkali-kali saya melihat banyak laki-laki yang justru panik dan berusaha dengan berbagai cara untuk menghentikan perempuaannya saat menangis entah dengan cara merayu, menghibur, atau samapi cara kasar mengancam dan sebagainya dan tidak sedikit yang kehabisan cara kemudian memilih meninggalkan perempuannya dalam keadaan menangis karena mungkin 'malu' dengan presepsi publik. Saya jelas tidak akan memilih laki-laki yang seperti itu. Tapi lagi-lagi itu hanya karena opini yang sudah mengakar dimasyarakat bahwa menangis adalah sesuatu hal yang tabu jika dilakukan terutama di depan publik. Kembali pada kaidah bahwa menangis adalah respons neurologis tubuh yang 'sehat' maka saya rasa cara untuk menghadapi perempuan yang menangis adalah cara yang digunakan oleh adik saya. Karena itu 'membiarkan' dan 'mengunggu' sampai selesai menangis merupakan cara yang tepat, karena air mata yang keluar adalah respons tubuh terhadap suasana emosional yang sedang dialami, maka, ketika air mata belum berhenti maka dapat diartikan bahwa tubuh masih menunjukkan responsnya terhadap perasaan yang dialami. Jadi, keberadaan seseorang disamping seseorang yang sedang menangis sekalipun tidak menghentikan air matanya, menjadi begitu penting, karena pada dasarnya 'keberadaan' seseorang dapat menjadi dukungan emosional, sekedar tepukan pundak, usapan punggung atau pelukan mampu meringankan sedikit beban emosional jika seseorang sedang menangis. So, laki-laki, jangan lagi beranggapan bahwa jika perempuanmu menangis berarti dia cengeng atau memalukan, yang perlu kamu lakukan bukan menghentikan tangisannya, tapi yang paling penting adalah menemaninya menangis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar