Selasa, 17 Oktober 2017

You Just Fall

Don't find love, let love find you. That's why it's called falling in love because you don't force yourself to fall, you just fall.

Aku mendengar quotes itu beberapa tahun yang lalu, kalau tidak salah dari video di YouTube. Aku bukan hanya mencatatnya di halaman notebookku, tetapi sampai kalimat itu melekat di keningku.Waktu itu aku sedang gencar-gencarnya  belajar dan mencari-cari  referensi tentang pasangan hidup yang tepat. Setelah terkontaminasi buku-buku "pencarian pacasangan hidup" yang dihadiahkan setiap tahun oleh temanku disetiap hari ulang tahunku. Aku akhirnya benar-benar menekuninya. Perempuan dalam video berdurasi sekitar limabelas menit itu berkata-kata banyak soal cinta. Banyak yang ia katakan, tetapi sedikit yang aku ingat, satu mungkin tepatnya, yaitu tentang jatuh cinta. 
Setiap orang dalam hidupnya, pasti pernah jatuh cinta, entah itu hanya sekali ataupun berpupuh-puluh kali. Jatuh cinta itu ya jatuh, seperti jatuh pada umumnya. Kita tidak bisa menentukan kapan atau di mana kita akan jatuh, apakah akan sakit atau hanya lecet, apakah hanya luka atau akan memar. Sama halnya jatuh, jatuh cinta juga demikian, kita tidak bisa merencanakan kapan dan dengan siapa kita akan jatuh cinta, sedalam apa kita jatuh cinta dan sampai kapan kita akan mencintainya. Yang kita tau, kita hanya jatuh. Seperti juga ketika kita jatuh, kita hanya membiarkan massa tubuh kita ditarik oleh gaya gravitasi terhempas ke tanah begitu saja tanpa perlawanan, tanpa menahan diri. Jatuh cintapun begitu, seperti ada gaya dengan besaran tertentu yang akan menarik seluruh pikiran, perasaan dan hatimu untuk jatuh, kamu tidak lagi mampu mengarahkan akalmu untuk jatuh cinta pada orang yang kamu inginkan, kamu tidak lagi dapat mengendalikan pikiranmu pada sosok yang selama ini kamu anggap sempurna dan pantas untuk kamu jatuh cintai, kamu tidak lagi bisa menuntun logikamu untuk menahan apa yang sebenarnya kamu rasakan. Terkatakan atau tidak, ketika kamu jatuh cinta kamu tetap jatuh dan kamu tidak bisa mengelak atau memungkirinya.
Aku pernah menertawakan temanku yang bilang "Enggaklah, nggak mungkin aku jatuh cinta sama dia." Jelas dusta, sekali lagi jatuh cinta bukan tentang kepada siapa yang kamu mau atau tidak mau, kamu hanya tiba-tiba jatuh, dan yang jelas bukan kita yang bisa menentukan, kepada siapa kita akan jatuh. Satu lagi temanku, yang sempat aku maki-maki karena dia bilang "Aku rasa, cinta akan datang sendirinya setelah terbiasa, aku akan belajar mencintainya." Kau pikir cinta itu matematika, ketika kamu perlu menyelesaikan soalnya, kamu hanya perlu mempelajari rumusnya, setelah kamu hafal rumusnya maka selalesai soalnya, setelah kamu terbiasa maka kamu akan jatuh cinta? Big no no!
Aku juga sering mendengar sebuah seloka jawa yang banyak orang sering ucapkan, tentang "Witing tresno jalaran saka kulina." yang memang jika diartikan bulat-bulat akan berarti cinta datang karena terbiasa, tapi aku rasa orang jawa tidak akan lepas dari filisofinya, aku memenggal seloka itu dan mengartikannya, jika wit itu pohon, tresno itu cinta, jalaran itu menjalar, saka itu tiang atau pilar dan kulino itu terbiasa maka secara utuh aku lebih senang jika seloka itu diterjemahkan bahwa
"Witing tresno jalaran saka kulina." bukan sekedar cinta yang datang karena terbiasa, melainkan pohon yang tumbuh dari suatu benih, dimana cinta itu adalah benih itu sendiri yang tumbuh menjadi pohon, kemudian menjalar dan ia memiliki lanjaran yang kuat yaitu saka, dan saka atau pilar itu adalah tentang terbiasa atau kebiasaan. Jadi cinta tidak datang sendirinya semata-mata karena terbiasa, tetapi karena memang ada benih yang akhirnya tumbuh, dan merambat, dan kebiasaan itu hanyalah tiang rambatannya. Simpulkan saja kalaupun ada tiang tetapi tidak ada bibit atau benih, lalu apakah yang akan merambat?

Seperti halnya awan, yang tidak pernah berusaha menahan bulir-bulir uap air yang ia dekap uantuk jatuh, demikian jadilah hujan. Juga rasa, kita tidak perlu menekan atau menahan apapun untuk jatuh, hanya membiarkannya jatuh, dan aku bisa menyebutnya cinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar