Sabtu, 08 Januari 2022

The Pain of being Underestimated

 Kesakitan karena disepelekan?
Seiring bertambahnya usia dan banyaknya orang yang lalu lalang dalam hidupku, akupun belajar bahwa ada beberapa orang yang pedapatnya perlu didengar dan beberapa orang lagi tidak perlu, atau bahkan sebaiknya diabaikan. Semakin kesini, jumlahnya semakin tidak banyak dan orang-orangnya semakin spesifik berdasarkan pendapat yang diperlukan.

Tetapi ada hal yang lupa aku ingat bahwa pandapat orang, adalah sesuatu yang ada di luar kendali kita. Jadi bahkan orang yang menurut kita pendapatnya begitu penting pun bisa jadi memberi pendapat yang mengecewakan atau bahkan menjatuhkan. Rasanya lebih sakit, karena pendapat ini berasal dari seseorang yang selama ini pendapatnya begitu kita perhitungkan.

Tapi sekali lagi, pendapat orang, adalah salah satu dari sekian banyak hal di dunia ini yang diluar kendali kita. Mengingat bahwa kita adalah manusia yang memiliki pemikiran bertumbuh, kepahitan semacam ini hanya harus disembuhkan. Lebih tepatnya, ini adalah urusan antara kita dengan perasaan kita sendiri.

Kecewa? Pasti.
Sakit? Tentu saja.
Tetapi penyelesaiannya bukan dengan orang yang bersangkutan, mencoba memperbaiki keadaan dengan konfrontasi pada kasus ini bukan merupakan jalan keluar. Karena mengubah cara orang berpikir, terlebih opini personalnya tentang kita tentu saja bukan tanggung jawab kita yang berada diluar dirinya. Satu lagi, ini adalah tentang cara berpikir yang memengaruhi perasaan. Terlalu abstrak untuk luruskan pada satu kaidah. Pemikiran dan rasa adalah kedua hal yang sama-sama bebas, sama-sama hanya terikat kepada pemiliknya.

Lepaskan, pertama-tama dari cara kita berpikir bahwa kita sedang disakiti, dengan berpikir bahwa dia tidak sedang menyakiti kita melainkan berperilaku layaknya manusia bebas, bahwa ia hanya sedang berkata-kata berdasarkan kodratnya sebagai manusia yang dipengaruhi oleh banyak hal diluar dirinya, kita sama saja sedang membebaskan diri kita dari perasaan sebagai korban. Kemudian, abaikan perasaan yang sebenarnya adalah prasangka yang sedang bermanifestasi dalam kepedulian, kali ini kepedulian yang sesungguhnya adalah dengan membiarkan. Proses membiarkan ini akan mengantar kita pada kebebasan atas luka-luka yang sejatinya ditimbulkan oleh pemikiran kita  sendiri.


Terakhir: menjadi pulih. Pulih adalah pilihan, jadi dari setiap kesakitan pulih hanya kita yang mampu mengupayakan, berasal dari kesadaran dan kemauan kita sendiri.

Pulihlah!

 

Rabu, 02 Juni 2021

PENCAPAIAN

 Kali ini anak itu berjalan pulang sekolah sepulang sekolah, ia tau yang dia bawa bukan sobekan tengah buku dengan layang layang dan angka satu nol yang ditulis pulpen merah, sudah tidak ada senyum atau usapan rambut dari kakeknya, tapi ia meyakini pasti dari kejahaun meskipun tidak kasat mata, neneknya di rumah menyiapkan secobek nasi among-among pengantar doanya kepada malalaikat pamomong yang menjaga dan mengantar cucunya pulang sekolah, kakak sepupunya tidak lagi mengomelinya ketika ia ditanya 8x6  dan ia menjawab 54, ia hanya memeluknya kencang.

Minggu, 09 Mei 2021

INNER CHILD

 Suatu sore, di sebuah kedai kopi di tepi jalan Sudirman.





Aku mengabadikan ini, sebagai proses yang tidak pernah terlintas dalam angan-anganku sebelumnya. Aku menggunakan akal budiku sepenuh hati untuk mengejar mimpi duniawiku, yang entah atas dasar ego, emosi, tuntutan atau yang selama ini kusamarkan dengan menyebutnya panggilan hidup.

Ada kalanya aku merasa jahat pada diriku sendiri, karena begitu kejam meladeni mimpi-mimpi menyulitkan yang kadang tampak "tidak perlu" susah-susah untuk digapai, untuk apa, tapi aku bersikeras mengejarnya.

Di waktu yang lain aku termenung, menimbang-nimbang, apa iya aku ini manusia tamak yang kurang bersyukur atas apa yang Tuhan karuniakan, aku begitu haus pencapaian, abai pada rasa cukup dan terus mengejar hal-hal yang lebih sulit dan tempat-tempat yang jauh.

Pada waktu tertentu, aku mendapati diriku termenung sambil sesenggukan di sudut ruangan, merasa bersalah tentang bagaimana aku mengutamakan kepentingan diri, lalai pada kebutuhan dan kebahagiaan di sekitar terlebih mereka yang sangat menyayangiku, aku ketakutan setengah mati kalau-kalau aku gagal atau kalau-kalau mereka pergi sebelum aku berhasil.

Setahun ini, hanya aku dan diriku, aku dan kelelahanku, aku dan kurang tidurku, aku dan sakit kepalaku, aku dan keluhanku setiap waktu, rasanya sesak di ulu hati, rasanya gigil di tulang belakangku.

Sore ini aku menemukan inner child-ku yang ketakutan berjalan di jalan aspal panjang sepulang sekolah, panas  kelelahan dan sepi sendirian. Ia kehabisan uang saku untuk jajan kerupuk rambak 50 perak kesukaannya, uang saku koin limaratus rupiah gambar bunga melati itu sudah ditabungnya untuk karya wisata akhir semester, hanya ada botol minum bekas air mineral yang diisi ulang rebusan air sumur di tasnya yang sudah lepas jahitannya dan dikaitkan dengan peniti. Ia berjalan dipinggir, sampai benar-benar menyenggol rumput ditepian dan memakai kaos kaki longgar menutup hingga betisnya, dicecangnya dengan gelang karet supaya tidak melorot ketika dipakai berjalan. Sepatunya bolong di bagian tungkai, sampai rasa aspal panas yang terbakar matahari terasa menyengat telapak kakinya. Ia merasa kikuk, setiap kali dijumpainya orang dijalan merasa iba kepadanya, ia selalu kehilangan kata-kata setiap kali orang yang berpapasan dengannya mengungkapkan keprihatinan kala melihatnya. Iapun mengasihani dirinya sendiri, yang kelahan belajar di sekolah dan kelelahan berjalan jauh sepulang sekolah. Anak sekolah dasar berambut panjang yang kecoklatan karena terbakar matahari itu masih begitu samar melihat masa depannya. Satu hal yang mempercepat langkahnya, hanya robekan tengah buku dengan tanda layang-layang dan angka satu dan nol yang ditulis dengan pulpen merah oleh gurunya yang ingin segera ia tunjukkan pada kakeknya, sekalipun ia tahu itu tidak akan membuatnya dipuji, apalagi diberi hadiah cokelat atau boneka, hanya senyuman tipis atau usapan lembut di rambutnya, tapi itu yang selalu dinantikannya setelah belajar semalaman. Malamnya ia tidak akan dibiarkan pulang oleh kakak sepupunya jika pekerjaan rumahnya belum selesai dan benar-benar paham caranya, terkadang ia menguap puluhan kali, terkadang ia membendung air matan di pelupuk matanya karena kesulitan, tapi kakak sepupunya akan menungguinya sambil menonton siaran ulang sepak bola sampai ia benar-benar bisa.


Datang kembali, anak dengan seragam putih biru, yang begitu kesepian, yang sering kali iri dengan apa yang dimiliki temannya, banyak hal yang tidak bisa ia lakukan banyak sekali hal yang tidak ia punya. Kala anak-anak seusianya tak tau bagaimana untuk tumbuh menjadi remaja, ia bahkan tahu bagaimana mengatasi datang bulan pertamanya dari artikel majalah langganan tantenya, saat remaja perempuan lain dan father figure kelak akan membuatnya mampu memaknai cinta, ia bahkan tak pernah berkomunikasi apa lagi bertemu dengan ayahnya. Saat anak perempuan lain seusianya belajar berdadan, memasak, merenda, memanggang kue bersama ibunya, ibunya bahkan sudah tidak pulang selama dua tahun. Ketika anak lain sedang belajar naik sepeda motor, dan memandang ayah mereka dengan penuh kagum sebagai cinta pertama mereka, ayahnya adalah orang pertama yang membuatnya patah hati. Ia memasuki masa remaja, sendirian, berusaha menemukan pemaknaan dirinya, menggali jati dirinya- sendirian. Ia mulai menyadari bahwa jika tidak dibarengi dengan usaha yang keras kemampuannya tidak seberapa, satu-satunya hal yang membuatnya bertahan hidup bukan makan, tetapi belajar. Dia belajar empat kali lebih keras dari siapapun seusianya, tidur dua tiga sampai empat jam untuk anak berusia 12 tahun atas kemauannya sendiri. Karena lagi-lagi pencapaian akademislah satu-satunya hal yang membuatnya merasa berharga atas dirinya sendiri. Setiap kali kesedihan merayapi perasaannya, ia akan mengunci dirinya dikamar, merapalkan untaian doa seakan satu-satunya entitas yang ia miliki dalam hidupnya hanya Tuhan-nya yang tak kasat mata, ia memeluk dirinya sendiri untuk meredam laranya, ia mengusap air matanya sendiri untuk tetap kuat. Tangisannya tidak jauh-jauh dari sakit gigi atau nilai ulangannya yang jelek padahal ia sudah setengah mati belajar, tapi suatu kali ia menangis tanpa tahu bagaimana mengatasinya, tangisan pertama yang berasal bukan dari kedua alasan yang bisa ia atasi, tangisan atas patah hati pertamanya. Bagaimana kala itu cinta pertamanya memilih anak perempuan lain dikelasnya untuk menjadi pacarnya, satu-satunya hal yang membuatnya belajar bahwa ada hal-hal yang tidak dapat ia kontrol - perasaan orang lain atas dirinya. Beruntung seorang anak perempuan ditempatkan sebangku dengannya, yang begitu penuh kasih memeluknya sebagai seorang sahabat, dan menenangkan meyakinkan dirinya, bahwa ia masih berharga meski tidak mendapatkan cinta pertamanya. Bahwa tidak apa-apa mengeluh saat terluka, tidak apa-apa untuk bersedih dan diketahui orang lain. Ia perlahan belajar bahwa keberhargaannya tidak dinilai hanya oleh satu orang yang dia ingini validasinya atas keberhargaannya. Ia berhasil mengatasi rasa sakit dan lukanya, ia berusaha menjadi dan merasa berharga dengan caranya.

Gadis berambut panjang dengan poni depan berseragam putih abu-abu. Yang sedang mencari jati diri dan perlahan kehilangan makna atas dirinya. Seperti anak remaja seusianya, kontrol terbesar atas dirinya adalah lingkungannya. Ia kehilangan kesejatian dirinya, saat ia ditempatkan bersama orang-orang seusianya yang berkecukupan materi maupun kasih sayang. Saat yang lain sedang mempersiapkan cita-cita, ia begitu gamang dan malah berusaha menemukan makna pulang, rumah dan keluarga- yang begitu bias keberadaannya, yang bagi orang lain seusianya tidak pernah mempertanyakannya. Sekali lagi patah hati membuatnya jatuh, tapi kali ini jatuh yang meruntuhkannya. Ia menjadi perempuan yang takut menangis, takut terliat lemah bahkan oleh dirinya sendiri. Ia tidak memiliki pijakan yang cukup kuat untuk kerapuhannya yang seharusnya adalah keluarganya, ia tidak memiliki hal berharga yang mebuatnya bertahan yang harusnya adalah mimpinya. Dititik ini, setiap hal tampak abu-abu, tentang akan bagaimana dan  harus apa kali ini benar-benar menguar begitu saja, tanpa jawaban. Untuk pertama kalinya, ia membirakan hidupnya tidak lagi dinahkodai oleh ambisinya, oleh cara berpikirnya yang ulung. Ia membiarkannya mengalir, dan tentu saja ini salah untuk anak seusianya yang sedang memiliki banyak energi. Energinya digunakannya untuk menutup luka-luka masalalunya hanya untuk mendapatkan validasi bahwa dirinya baik-baik saja. Nilai akademis bukan lagi hal berharga, pencapaian tidak lagi sesuatu yang membuat dirinya bermakna. Ia tidak lagi tertarik dengan belajar, angka dan kata-kata hanya membuatnya kelelahan tanpa alasan, dan dititik ini ia mulai mempertanyakan keberadaan Tuhan-Nya yang selama ini menajadi belahan hidupnya. Mulai meragukan tentang adanya Entitas tempatnya meminta dan mengeluhkan hidupnya. Masa itu berlalu begitu saja, bahwa pemaknaan persahabatan satu-satunya yang ia anggap berharga pada akhirnya juga kehabisan makna setelah ia tidak lagi tinggal di kota yang sama. Dan lagi-lagi menyadari bahwa satu-satunya yang tetap ada dipihaknya hanya Tuhan dan keyakinannya, yang ia bisa bawa kemana-mana.

Dia tumbuh bertiga bersama teman kostnya, semakin sibuk semakin baik, artinya semakin tidak ada waktu untuk memikirkan hal-hal yang sedang ia pertanyakan. Artinya hidupnya selalu sama, hidup adalah tentang mempertanyakan sesuatu. Ketika ia berhenti mempertanyakan sesuatu, artinya dia sedang kehilangan pemaknaan hidupnya. Hidupnya adalah untuk menjadi sibuk tanpa makna. Sampai ia bertemu dengan seseorang yang menjadi sosok kakak perempuannya, orang dengan mimpi besar dan tahu benar ia siapa dan apa yang ia inginkan dalam hidupmua. Awalnya ia hanya teman seperjalanan, tapi siapa sangka, akhirnya ia yang membuatnya kembali mempertanyakan sesuatu, yaitu jalan hidupnya. Sekalipun ia gamang tentang kebermaknaan hidup, akhirnya ia mulai mencari kembali. 

Ia termenung pagi-pagi sekali, ditepi danau belakang perpustakaan UI, ia belum lulus, belum bekerja dan tak tau pasti sedang ada di fase mana dalam hidupnya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia mencoba membulatkan tekatnya untuk bunuh diri, meski belum tau pasti bagaimana caranya. Ia merasa tidak ada satupun dari sekian banyak sahabatnya yang mampu mendengarkan atau paham apa yang ia alami atau rasakan. Fase transisi tersulit dalam hidup bahawa rasanya membuat satu keputusan yang salah dalam hidup akan menghancurkan hidupnya selamanya, tidak ada dapat diperbaiki atau memperbaiki. Ia merasa sungguh sendiri, bahkan doa-doa yang ia rapal tidak sampai kemana-mana hanya musnah begitu saja. Hidup tanpa makna, tujuan yang begitu sulit atau bahkan rasanya mustahil untuk dilalui. Ia mengasingkan diri, menjauh dari masalah, dari-orang-teman-orangtua. Dan lagi-lagi rasanya ingin mati saja. Ini adalah fase krisis pertama dalam hidup yang rasanya mustahil dilalui, kegagalan paling pahit, dan ketidak-terbukaan paling sakit. Singkat tapi rasanya seumur hidup.

Seseorang datang mengaku menemukan gadis krisis identitas dengan radar neptunusnya, di sudut toko buku. Lalu dihari-hari berikutnya, ia bukan hanya menemukan buku apa saja yang dibacanya , tapi juga menemukan keseluruhan dirinya. Untuk pertama kalinya, ia menghapus checklist kriteria laki-laki idaman dalam hidupnya, yang membiarkannya sendirian selama 7tahun. Ia membiarkan seseorang membuka luka-lukanya yang ia tutup-tutupi selama hampir seumur hidup. Ia merasa nyaman karena dibiarkan menjadi dirinya sendiri. Perlahan ia kembali menggali keberanian yang ia kubur dalam-dalam, karena ia tahu memiliki pelukan, satu-satunya sumber kekuatan yang ia perlukan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia memiliki keberanian untuk membagi mimpin besarnya dengan orang lain. Untuk pertama kalinya, ia membiarkan orang lain memberi tahu apa yang sebaiknya ia lakukan. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia tau rasanya melakukan sesuatu pelan-pelan. Pelan-pelan caranya melihat dunia dan dirinya sendiri berubah, ia merasa berharga karena ada seseorang di sampingnya. Hidupnya kembali bermakna, ketika ia mempunyai tempat untuk membagikan segala hal yang ia pertanyakan. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa cukup, dan bersykur dalam hidupnya. Hidupnya kini bukan sebatas mengejar pencapaian, tapi tau rasanya berpijak pada realitas dan tetap bermimpi sembari menapak bumi. Laki-laki ini bukan seseorang yang sempurna, tapi ia merasa menemukan jiwa yang selama ini ia butuhkan dalam hidup, jiwa yang terus bertumbuh dan pikiran yang terus berkembang, yang ia butuhkan ada disampingnya sehingga ia tetap hidup. Tangan yang merengkuhnya, untuk tau bahwa ia dincintai dan berharga.

Selasa, 02 Juni 2020

Anak



Anak itu sedang bermain dedaunan di halaman rumah, saat aku membuka pagar. Lesung pipi di pipi kanannnya melekuk manis saat ia membalas senyumku, itu lesung pipiku.

Anak itu rambutnya begitu legam, lurus, dipotong pendek. Matanya lebar, bening dan bola matanya berwarna cokelat gelap. Mata yang aku kenal sejak lama. Binarnya sama persis. Ada kepedulian sekaligus ribuan keingintahuan yang begitu dalam saat ia menatapku.

"Ibu." Panggilnya. Ia lalu meninggalkan tumpukan daun dan ranting-ranting yang sedang ia kumpulkan.

Aku memeluknya, rasanya belum enam jam aku meninggalkannya tapi rinduku yang bertumpuk-tumpuk luruh begitu saja saat tangan mungilnya memeluk pinggangku.

"Ibu lelah?" tanyanya, sambil mengambil alih tas jinjingku, lalu menuntunku masuk ke dalam rumah.

Ada yang bergegas membukakanku pintu, memelukku dan mengecup pipiku.

"Sana bersih-bersih dulu, aku baru selesai masak sayur kangkung." sambil mengacak-acak rambutku seperti yang sering dilakukannya  sejak sepuluh tahun lalu.

Aku membalasnya dengan senyuman bangga, seraya menghembuskan napas panjang. Rasanya tidak ada yang berubah, sejak rumah ini belum memiliki tiraipun aku selalu merasa pulang ketika membuka pintunya.


Rabu, 06 Mei 2020

A Lifetime Ran on A Race

"Selama ini kita hanya berputar-putar di sini." katamu

Ya sesuatu yang disebut progress adalah sebuah pergerakan maju, menunjukkan sesuatu yang berkembang dan dapat diukur. Lalu jika kita ukur sudah sejauh mana perjalanan ini. Karena perjalanan waktu adalah sesuatu yang tidak kasat mata, maka aku hendak menarasikan apa yang sudah kita lewati untuk tau seberapa jauh yang telah kita tempuh.

Sayangnya perjalanan ini bukan seperti lari estafet, yang kita bisa ukur kita sedang berlari di 100m  pertama atau 100m kedua atau seterusnya, dan jika 100m ke empat sudah ditempuh maka kita boleh jadi merasa aman karena sudah mendekati garis finish. Perjalanan yang kita jalani sayangnya tidak dapat diukur dengan panjangnya jarak yang kita sudah tempuh. Cinta adalah perjalanan seumur hidup dan mencintai adalah "a lifetime ran on a race".

Dulu, aku kerap berpikir, bahwa menikah adalah garis finish dari setiap komitmen, toleransi dan susah payah yang selama ini kita perjuangkan bersama. Menikah adalah akhir yang bahagia dari masa pacaran. Tetapi cinta nyatanya tidak demikian cara kerjanya. Kalau pernikahan adalah akhir dari perjalanan cinta, tentu tidak akan ada perceraian, perselingkuhan, pertikaian. Sayangnya kita tumbuh didunia yang menggambarkan bahwa pernikahan adalah kehidupan ideal yang harus diajalani setiap orang.

Nyatanya, pernikahan adalah frame yang dibentuk oleh norma sosial untuk mengijinkan orang yang saling mencintai tinggal bersama dengan nyaman tanpa stigma buruk dari masyarakat, sebenarnya apa pentingnya presepsi orang lain atas hidup kita, toh jika nantinya pernikahan kita tidak bahagia akan kembali mendapat nilai buruk dan pandangan negatif dari orang lain lagi?  Pernikan tidak lain adalah ukuran kemapanan untuk seorang anak, supaya dengan bebas menentukan jalan hidupnya sendiri dan lepas dari keluarga intinya, mengapa hidup mandiri harus diukur dengan pernikahan, bukankah pernikahan hanyalah membedakan status pada catatan kartu keluarga? Pernikahan adalah ikatan sakral yang memiliki keabsahan dimata agama dan hukum, lagi-lagi tentang norma kan?

Aku perlahan mulai kehilangan nilai dari pernikahan yang aku coba hidupi selama ini. Aku selalu mencoba mengangkat bahwa cintalah yang lebih unggul dibandingkan dengan pernikahan. Karena pernikahan mungkin saja baru titik 100m pertama lari estafet perjalanan cinta seseorang, kecuali jika nilai yang hidupi adalah "cinta karena terbiasa" maka nikahilah pohon bayam, dengan terbiasa hidup bersama maka kamu akan mencintainya. Seremeh itukah cinta?

Aku terbiasa memandang cinta ssebagai sesuatu yang sakral, sepertihalnya warna bola mata saat kita lahir, kita tidak bisa memilihnya, itu datang dengan sendirinya. Seperti zing yang terjadi pada Mavis, Semesta yang membuat cinta terlahir dalam perasaan kita. Untukku, cinta adalah alasan kenapa kita bisa merelakan ego kita terluka untuk mengahargai orang yang kita cintai. Cinta adalah alasan kita tetap ingin hidup dan tetap berpengharapan, karena ingin melihat orang yang kita cintai. Cinta adalah alasan kita mau berubah dan bertumbuh menjadi versi terbaik dari diri kita, walau sulit, karena kita ingin orang yang kita cintai menerima pasangan yang layak untuknya.

Sayangnya, nilai ini tidak mudah untuk dihidupi. Terlebih, jika orang yang kita cintai tidak menilai dengan sepadan tentang nilai yang kita hidupi.

Kamis, 23 April 2020

Secarik cerita tentang Senggani.id



Awal mula senggani lahir dari buah pikiranku yang hobi ngeblog sekitar akhir 2012. Lahirlah senggani.inscription.blogspot.com Hampir setiap hari aku menulis di blog sebagai jurnal pribadi. Angan-angan yang terbesit saat itu adalah untuk menaikan view dan mendaftar ad-sense. Tapi adsense ternyata tidak sebatas view tapi juga konsistensi konten. Sementara jurnal harian random yang ditulis sesuai mood dan tergantung apa yang sedang dipikirkan jelas bukan pasar yang bagus untuk adsense. Dengan bijaksana google menolak permohonan ad-senseku.


sekitar 2014 saat aku mulai menggunakan instagram, lahirlah senggani_preloved terinspirasi dari akun temanku yang menjual baju-baju layak pakai, aku memanfaatkan platform instagram untuk menjual baju-baju yang tidak sering kupakai, buku-buku atau novel yang sudah selesai aku baca dan skin-care hasil coba-coba yang tidak cocok dan aku tinggalkan. Beberapa buku berhasil mendarat ke tangan pengadopsinya (sebagian lagi kembali masuk kedalam kardus karena pada akhirnya tidak terikhlaskan untuk dimiliki orang lain), baju yang akhirnya didonasikan sebagian untuk korban bencana dan sebagian lagi untuk lap pel dan keset. Dan yang membuat ini berakhir tepatnya satu dari beberapa costumer skincare yang menuduhku penipu karena paketnya belum sampai selama seminggu, kemudian dia meneror semua akun sosial mediaku. Senggani_preloved selesai di sini tapi ini bukan akhir. Tidak ada kerugian berarti dari gulung tikarnya Senggani_preloved karena modalnya Rp.0 dan kalaupun closed store ini tetap sebuah pencapaian pertama Senggani. Nominal Rp. 129.000 cukup untuk memenuhi hasrat keingintahuanku.
Beberapa bulan 2015 awal kemudian Senggani lahir kembali dengan wajah baru dan idealismenya sebagai platform jualan Senggani_artandcraft menjadi nama beken yang dipilih untuk  wadah menjual gelang-gelang yang sebagian hasil daur ulang dan sebagian lagi hasil kerajinan tangan. Ide ini terinspirasi kembali dari orang yang sama yang membuatku melahirkan senggani waktu lalu. Melihat karya kerajinan tangan Mbak Wina dan pacarnya yang punya followers banyak dan membawanya melahirkan brand yang keren Fond Indonesia dengan 50ribu followers dan harga yang tidak mahal tapi konsumen melimpah, tentu saja gelang anyam mudah dibuat. Dengan impulsifitas tinggi bermodalkan kesok-tahuan tiada tara. Aku langsung memborong bahan-bahan craft sebagian dari pasar sebagian lagi dari online. Dengan tigapuluhan hasil karya dengan percaya diri kupasarkan kepada teman-teman sekelas dan teman-teman kost. Viola, dalam dua minggu tidak ada respons positif dari siapapun. Aku masih belum menyerah (tepatnya keras kepala) dan melanjutkan ekspansiku dengan personal chat secara lebih persuasif. Dua korban berjatuhan, dan aku menghasilkan Rp.37.000 pertama dari bisnis yang tadinya kuimpikan bisa membawaku launching produk dengan keren di masa depan. But who knows. Setelah dua penjualan itu tidak lagi ada proses menganyam benang dan merangkai manik-manik. mimpi itu menguap begitu saja dengan kesibukan nugas kuliah dan ngajar les serta vounteering di rumah belajar. Modal awal sebesar Rp. 170.000 itu akhirnya menguap begitu saja.

KeripikPegagan Instagram posts (photos and videos) - Picuki.com 
Kerugian uang jajan yang cukup besar untuk anak kuliahan itu akhirnya hampir membuatnya kapok. Sampai 2017 akhir berbekal oleh-oleh yang dipesan oleh Ibu-ibu komunitas di kantor Senggani Lahir kembali sebagai Senggani_healthysnack. Keripik daun pegagan itu naik daun di kalangan Ibu-ibu pecinta healthy food. Kupercayakan kepercayaan mereka kepadaku pada Mbak Nia yang siap menggoreng dan memaketken pegagan supernya. Bermodalkan relasi yang baik dengan Mbak Nia sahabat pena zaman dahulu kala dan plastik ziplock seharga 40ribu berdirilah Senggani_healthysnack dengan percayadiri. Custom dari pelanggan yang agak rewel karena tidak mau pakai telur dan tidak pakai micin, dan pakai minyak kelapa akhirya panganan yang diklaim sehat ini harganya berhasil naik pesat. 4kg untuk sekali pengiriman cukup menguras modal pada awalnya. harga asli Rp. 40.000/kg dan ongkos kirim 60ribu per pengiriman dari Mbak Nia ku jual Rp 25.000 per seperempat kilo. Sempat ku tawarkan di koperasi kampus, tapi gagal karena supervisor koperasi kampus tidak makan sayur, yah anggap saja itu kemalangan yang tidak terprediksi. Marketing yang cukup lumayan untuk lulusan Sarjana Pendidikan. aku meraup untung yang cukup lumayan selama lima kali pemesanan . Akhirnya reseller pegagan inipun menyerah karena distributor kesulitan mencari bahan di musim kemarau, sehingga banyak pesanan macet. Disinilah akhir dari Senggani_healthysnack yang membanggakan. Tidak berhenti disini, sisa plastik ziplock bekas penjualan keripik pegaganpun berhasil kembali meraup keuntungan ketika dijajakan sebagai plastik anti tumpah anti bocor dan anti ribet di Gelora Bung Karno saat pertandingan Tim Nas.


Pertengahan 2018 bermula dari tidak bisa menolak bisikan MLM akupun kembali menyulap toko Senggani kecintaan menjadi Senggani_skincare. Teman kantor yang tidak pernah patah semangat merayuku untuk menjadi downlinenya berhasil membuatku menghabiskan Rp. 600.000 dengan setengah sadar. Ketika kuamati hasil belanjaanku tidak ada satupun produk yang biasa kugunakan atau cocok denganku. Jadilah Senggani_skincare kubuat untuk menjual semua produk oriflame hasil kelatahan bergabung MLM. See, tidak ada yang mau membeli seberpapun gencar aku mengiklankannya. Jelas saja karena produknya terlalu pricey. Dan menjual produk orang lain, it's just not for me. Akhirnya bodycare kubungkus untuk kado ulang tahun temanku, body butter ku jadikan untuk christmast gift tetangga kamarku dan parfum juga kukirim untuk ulang tahun sahabatku, juga jam tangan yang ku berikan pada mama sebagai kado hari ibu, masker kuberikan adikku yang berakhir jerawatan. Sungguh penyesalan memang datangnya belakangan. Beginilah bagaimana  Senggani_skincare tamat.

Mejelang pertengahan 2019, berawal dari aku yang mulai rutin melakukan yoga dan relaksasi. Suatu pagi, ketika yoga bersama komunitas di Taman Kota Tebet, hadirlah seorang instruktur yang mengoleskan minyak aromaterapi pada buku-buku tangan setelah pranayama, dan savasanaku rasanya bisa deep dan lelap. Sepulang yoga, aku mulai searching mengenai aroma therapy. Certified organic aroma therapy harganya sungguh tidak masuk akal. Dan aku mencoba mengakali dengan mencari alternatif penggunaan aromaterapi, salah satu alternatifnya adalah lilin aromaterapi. Sayangnya harga lilin aromaterapi unggulan dipasaran tidak kalah gila. Begitu saja muncul Eureka, untuk membuat sendiri lilin aroma terapi. Ini ide yang bagus untuk dipasarkan ke teman-teman yoga atau teman-teman meditasi. Sambil merapalkan doa, kuberanikan kembali menghadirkan Senggani_id . Lagi lagi memang kekuatanku adalah impulsivitas. Kuberanikan diri mengambil resiko dengan meminjam modal Rp.700.000 dengan meminjam modal aku berharap bahwa akan ada beban tanggung jawab, untuk apa yang sudah kumulai supaya modal itu dapat kembali kepada pemiliknya. Kubelanjakan sampai habis, untuk semua bahan. Berbekal tutorial di Youtube dan tidak menyerah untuk trial and error aku mencoba berkali-kali setiap metode dan presentasi. 26 gelas lilin pertama laku terjual disusul dua ata tiga gelas berikutnya yang berarti modal awal sudah kembali, dan tersisa modal investasi. Rp. 700.000 berhasil kukembalikan kepada pemilik modal dan total keuntungan pertama kuberikan untuk donasi retreat komunitas rohaniku. Aku tidak untung besar, belum matang dalam perhitungan dan tidak pakar dari marketing. Tapi terbesit kebahagiaan saat berhasil mengirimkan lilin-lilin ini kepada orang - orang yang menginginkannya. Terlebih mengiriminya untuk teman yang ulang tahun, rasanya ada kebahagiaan tersendiri ketika tidak harus membeli dan cukup mengirimkan buatan tangan sendiri. Dari semua hal yang pernah kujalani, yang paling berharga adalah hal yang dibuat dengan cinta dan kesepenuhatian.


Senggani, riwayatmu kini...
Aku berharap, dengan makna filosofis yang kuambil, senggani menjadi rapalan doa tentang harapan yang tidak pernah mati, seperti halnya senggani yang tegar menantang musim, kuat berakar dibelukar dan tetap indah walau liar. Senggani menjadi mantra sakral yang membungkus setiap harapan dengan keberanian. Amin.