Kamis, 23 Juni 2016

Masih



Masih, hujan kedua di bulan November…
Merindukanmu semacam melemahkan syaraf-syarafku.
Debar debar yang membuatku merindukan, meski itu hanya nama atau gambarmu.
Hai, kejauhanmu tak membuatku berhenti menggambarkan parasmu.
Kebaradaanmu yang taidak aku ketahui lintang bujurnyapun tak menyurutkan desir desir yang mendadak datang ini.
Oh, hujankah yang medatangkan kecamuk ini?
Jelas bukan.
Hujan yang mengobatinya.

Penerimaan



Untuk menemukan seseorang yang dapat menjadi tempatmu membagi kebahagiaan itu mudah.
Tapi tidak dengan berbagi kesulitan, pergumulan hidup, pilihan-pilihan yang sulit dan lebih lagi seseorang untuk tidak berbagi apa-apa.
Penerimaan yang sejati adalah ketika kita tidak menerima apa-apa.
Hal yang terutama paling aku khawatirkan dalam hidup adalah soal penerimaan.
Karena manusia sejatinya bukan hanya seonggok daging tanpa asal-usul.
Penerimaan tentang bagaimana aku dilahirkan, penerimaan tentang bagaimana aku dibesarkan, dan penerimaan tentang apa dan siapa aku sebenarnya, penerimaan terhadap setiap hal, setiap orang yang berhubungan dengan ku, penerimaan tentang siapa aku di masa lalu, penerimaan siapa aku dimasa depan.
Sering kali yang aku dapatkan adalah ‘cukup tahu’ saja. Padahal untuk memulai sesuatu hal yang pertama kita butuhkan untuk memulai adalah penerimaan.
Setiap manusia secara kodrati adalah makhluk yang menuntut kesempurnaan pada setiap hal, menuntut kesempurnaan adalah sama halnya menuntut kemustahilan. Kesempurnaan adalah salah satu hal didunia ini yang bersifat relatif, tak terukur.
“Accepting imperfection is the way to make it perfect.”
Untuk pertama aku menggali seseorang mulai dari setiap kekurangannya.
Tidak dipungkiri setiap orang memiliki ukuran, takaran, kriteria untuk setiap orang yang datang ke dalam hidupnya.
‘menilai’ menjadi hal yang begitu dasar untuk dilakukan dalam rangka menentukan ketepatan atau ketidak tepatan seseorang, terutama ketika kita dihadapkan pada pilihan-pilihan.
Tapi bagaimana dengan penerimaan?
Penerimaan bukan sekedar karena taka da lagi pilihan. Justru menerima merupakan pilihan tersulit.


Lima Hal Tentang Cinta



Apakah kamu sedang jatuh cinta? 5 hal ini akan mengukur sudah sejauh apa kamu mencintainya
1.       Ketertarikan
Kata orang setiap manusia terlahir berpasang-pasangan dengan takdirnya masing-masing. Pernahkah pada suatu hari ketika kita sedang duduk di suatu tempat tiba-tiba lewat sosok yang begitu menawan dan memikat hati? Rasa ketertarikan terhadap lawan jenis adalah hal paling manusiawi dalam diri setiap manusia. Hal tersebut senada dengan pepatah lawas “Dari mana datangnya cinta, dari mata turun ke hati.” Hal-hal yang melahirkan rasa ketertarikan tak ubahnya adalah hal-hal yang sering kali kasat mata dan sering kali berupa ketertarikan fisik terhadap seseorang. Namun tak jarang ketertarikan juga timbul oleh hal-hal lain yang tidak bersifat badaniah, misalnya karakter. Seorang yang ramah, berkepribadian baik dan dewasa sering kali dapat bertukar posisi menjadi sumber ketertarikan kita. Bahkan bukan hal yang mustahil ketika kita bisa tertarik pada seseorang yang belum pernah kita temui sama sekali, karena kita begitu mengagumi kisah hidupnya misalnya. Atau bahkan banyak pasangan yang terlahir hanya dari percakapan di media sosial. So, banyak sekali hal yang begitu pribadi dan tergantung pada setiap individu yang bisa memunculkan ketertarikan. Dan berbeda-beda pada masing-masing orang. Ketertarikan ini akan memunculkan rasa penasaran yang jika kita ikuti akan membawa kita untuk mengenal dan mencari tahu banyak hal tentang orang tersebut.
Namun rasa ketertarikan masih belum bisa kita sebut cinta, baru sebatas ‘suka’.
“Aku suka caramu berpakaian.”
“Wow, kamu sangat pintar, aku suka.”
“Aku suka bagaimana kamu berpikir.”
“Aku suka pada pandanganmu, caramu melihat dunia.”
Dan dari rasa suka atau ketertarikan inilah dimana ‘cinta pada pada pandangan pertama’ bukan lagi hanya sekedar mitos. Mungkin memang tidak bisa kita katakana bahwa kita bisa mencitai seseorang hanya dengan sekali berjumpa. Tapi lewat proses ketertarikan ini, kita akan mengenali dia lebih dan lebih jauh lagi sehingga membawa kita pada apa yang orang sebut sebagi cinta.
2.       Sayang
Apa bedanya cinta dengan sayang? Ketika kita translate kedalam bahasa inggris toh akan berarti sama yaitu ‘love’. Perasaan sayang bermakna lebih universal. Bahkan ketika kita hendak mengungkapkan perasaan kita terkadang kata ‘sayang’ menjadi diksi yang lebih tepat untuk kita pilih ketimbang kata cinta. Karena makna kata sayang lebih luwes untuk kita sampaikan. Sayang memiliki cakupan tujuan yang lebih luas. Sayang dapat kita tujukan kepada siapa saja bahkan apa saja. Kita dapat mengungkapkan perasaan sayang kita kepada orang tua, sahabat bahkan obyek-obyek tertentu seperti hewan peliharaan atau benda-benda koleksi kita. Rasa sayang yang kita tujukan kepada seseorang memiliki makna bahwa kita menginginkan kebahagian orang tersebut, dan sebisa mungkin kita adalah bagian terpenting dari kebahagiaannya. Melihat orang yang kita sayang bahagia oleh karena sesuatu yang kita lakukan akan melahirkan kebahagiaan pula dalam diri kita. Jadi, kita juga membutuhkan pengakuan bahwa kebahgiaannya adalah karena kita. Bagian terpentingnya, ketika kita menyayangi seseorang kita akan mengusahakan banyak hal untuk membuatnya bahagia, atau bahkan sekedar membuatnya tersenyum. Then, apakah sayang berarti cinta? Belum. Tapi rasa sayang adalah kunci terpenting untuk kita sampai kepada cinta.
3.       Ingin Memiliki
Banyak lagu-lagu melankolis yang bertutur tentang ‘cinta tidak harus memiliki’. So, benarkah cinta tidak harus memiliki? Ketika kita mengingat syair lagu tentang cinta tidak harus memiliki, kita akan teringat pula tentang cinta bertepuk sebelah tangan. Bertepuk sebelah tangan adalah makna kiasan tentang perasaan yang tidak mendapatkan respon yang sama dari orang yang menerimanya.  That’s way, kenapa ada istilah patah hati. Rasa ingin memiliki adalah sebuah kewajaran untuk setiap hubungan. But, rasa ingin memiliki itu tidak sama dengan cinta. Kepemilikan menjadi penting karena menjadi territorial-territorial tertentu yang membatasi hak-hak kita terhadap pasangan kita dari orang lain. Bukankah sebuah hubungan selalu membutuhkan pengakuan. Banyak orang menuntut tentang kejelasan suatu hubungan. Banyak orang mengingini status dengan pasangannya. Lalu sepenting apakah rasa ingin memiliki itu. Entah kita sekedar suka, tertarik atau sayang, kita tentu mengingini bahwa perasaan kita berbalas. Jadi, ketika kita terikat hubungan atau status (yang biasa dideskripsikan in relationship) maka secara otomatis kita akan terikat dengan batas-batas etika kebebasan berhubungan dengan pasangan kita sebagai penghargaan terhadap diri dan pasangan kita. Sesuatu yang disebut status yang mengikat kita dengan hubungan timbal-balik atau yang labih akrab disebut ‘saling’ yang selanjutnya membawa masing –masing pribadi pada suatu pasangan kedalam hal yang kita kenal sebagai komitmen.
4.       Nafsu
Berbicara soal nafsu, manusia secara kodrati memang terlahir dengan nafsu. Karena manusia diciptakan sebagai laki-laki dan perempuan dengan fungsi untuk bereproduksi atau menghasilkan keturunan. Nafsu di sini lebih mudah dideskripsikan secara ilmiah. Perasaan atau hasrat antara dua orang berlainan jenis timbul karena adanya senyawa-senyawa kimia di dalam diri kedua orang tersebut. Salah satu senyawa kimia itu disebut senyawa feromon atau biasa juga disebut hormon pheromones. Senyawa tersebut lang memengaruhi sistem kerja hipotalamus atau otak kita untuk merasakan mempengaruhi kondisi psikologis tubuh misalnya akan terjadi perubahan detak jantung yang semakin cepat, nafas yang menjadi tidak beraturan, suhu tubuh meningkat, berkeringat, dan lain-lain.
Dalam istilah Yunani kita mengenal istilah cinta dalam tiga kata, yaitu Eros, Philia dan Agape. Nah, Eros inilah yang mengandung nafsu. Eros sendiri tidak selalu berarti nafsu yang mengarah pada gairah seksual saja. Eroslah yang melahirkan keinginan untuk selalu bersama dan keberadaan pasangan secara nyata dan juga melahirkan kerinduan.
5.       Cinta
6.      “Adalah ketika kamu menitikkan air mata
dan masih peduli terhadapnya..
Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu masih
menunggunya dengan setia..
Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain
dan kamu masih bisa tersenyum sembari berkata
‘Aku
turut berbahagia untukmu’”

Hidup ini berputar



Hidup ini berputar, diatas, dibawah, itu hanya soal waktu.
Apa yang kau pakai untuk mengukur itu akan digunakan juga untuk mengukur.
Ketika engkau merasa disia-siakan itu adalah saat dimana kau harus mulai mengingat siapa yang pernah engkau sia-siakan.
Ketika engkau merasa tak berarti buat seseorang yang begitu kau cintai itu artinya engkau harus berpikir sekali lagi, siapa orang yang pernah kau anggap tak berarti di hidupmu.
Ketika engkau ditinggalkan tentu engaku pernah meninggalkan.
Lalu lihat air matamu itu, dulu pasti pernah ada ornag yang tak pernah ingin melihat air matamu itu, di sudut sana pasti pernah ada orang yang yang berdiri dan berharap untuk bisa menjagamu dari air mata itu.
Ketika engkau hanya berpikir untuk mencintai, mencintai, mencintai…kamua akan kehilangan banyak hal. Ingatlah bahwa engkau hidup juga untuk dicintai, jangan pernah lupa bahwa dicintai itu penting.
Ketika engkau saat ini merasa di bawah, merasa ada di sebuah titik dimana engkau duduk dalam keterpurukan, maka sadarlah dan segeralah bangun berdiri.
Tengok kembali apa yang pernah engkau lalui. Orang yang sungguh mencintaimu mustahil tak akan memaafkanmu. Dengan catatan ia sungguh mencintaimu. Maaf adalah kata pembaharu yang luarbiasa, sebuah makna tentang memulai kembali, satu hal yang bahkan dapat membangun puing—puing yang telah hancur sekalipun. Maka, pertama-tama maafkanlah dirimu, mintalah sebuah maaf yang membersihkanmu dari segala kelalaian dan kekeliruan yang telah lampau.
Sebutir maaf itu akan membantu engkau, maaf akan menjadi batu pertama untuk pondasi kehidupanmu.
Tengok ke dalam dasar hatimu, bahwa ketika engkau terjatuh engkau pernah berdiri diatas sebuah kesombongan, keangkuhan untuk menerima orang yang mencintaimu dengan cara yang baik, engkau hanya akan mengerti rasanya diabaikan bukan ketika engkau mengabaikan, tapi ketika engkau diabaikan.
Padahal menerima itu bukankah hal yang sulit, kadang kita terperangkap dengan presepsi konyol bahwa hanya orang-orang tertentu yang layak memberi untuk kita. Lalu ketika itu ditakarkan kepada kita, saat kita dianggap tidak layak untuk memberi. Bagaimana? Tidakkah itu menyakitkan, ya, tentunya sama dengan apa yang engkau rasakan, bukan?

Aku menengok kembali tentang apa yang kin aku lewati, saat ini aku merasa sendirian. Lalu aku menengok kebelakang, tentunya kau pernah meninggalkan seseorang dan membuatnya merasa sendiri. Aku merasa apa yang pernah aku ukurkan saat ini benar-benar menjadi ukuranku. Ini bukan soal diatas atau dibawah. Ini hanya soal bagaimana aku menempatkan diriku. Aku menempatkan diriku di tempat dimana aku dulu pernah menempatkan orang orang lain seperti aku saat ini. direndahkan, dicampakkan, dipandang tidak layak, diperlakukan sebelah tangan dan separuh muka. Seberapa banyak aku diabaikan tentu saja setara dengan seberapa banyak aku mengabaikan. Ini berada di bawah bukan berarti kehancuran.
Ketika didalam kegelapan bukankah suasana yang tepat untuk menelanjangi diri tanpa terlihat orang lain, semakin gelap justru semakin baik, baju-baju kesombongan, keangkuhan, perasaan berhak menilai dan penilaian diri berlebihan harus segera ditanggalkan sehingga kepribadianmu yang indah tidak lagi tertutupi dengan hal-hal yang tidak sepatutnya.
14 September 2014

Aku tak menyesal, tapi aku minta maaf



9/1/2016
Jujurlah pada HATIMU...
Tikar malam tergulung beranjak pagi… pagi sangat pagi.
Sepenggal lagu dari film legendaris yang sebentar lagi akan tayang sekuel keduanya, ada apa dengan cinta?
Ya, ada apa dengan cinta?
Entahlah setiap penggal lirik lagu selalu bermakna mendalam.
Seperti hari ini, sepenggal lagu Christina Aguilera, Hurt.
“I’m sorry for blaming you… for everything that I couldn’t do…”
Part itu yang paling aku sukai.
Dan seakan sepanjang sore ini aku menguji sesuatu.
Desember sudah lepas, januari sekarang, terhitung lepas dari tiga tahun desember waktu itu.
Ya, sesorean ini aku duduk dengan sesorang yang lahir di bulan desember, aku tak tahu banyak tentang dia. Tapi aku tahu dia lahir bulan desember,dan  tahun lepas tahun aku masih selalu menyempatkan mengirim selamat di setiap desembernya untuk setiap hari lahirnya.
Jika gerak bisa dihitung, jika sikap bisa diukur, apa yang harus ku katakana tentang kekakuan yang tak kunjung melunak.
Tak pernah salah jika kutulis…
“We’re pretend that we’re just fine. But I know from your eyes that you’re not. Because you’re still keep your hurt that I made few years ago.”
Ya, aku sering berpikir kalau kami bukan siapa-siapa, ya terang saja, kami tak pernah kita, dan tak pernah menjadi apa-apa.
Mutiara akan terlihat bulat sempurna, indah dan berkilau ketika terkalung dileher orang lain.
Namun, ketika berada di leher kita akan nampak jelas bahwa sebenarnya iya tak bulat sempurna, banyak lekukan.
Ketika bertengger didepan mata kita ia akan kehilangan kilaunya karena sesikit cahaya yang dapat di pantulkan ke pupil kita. Namun lain ketika terkalung di leher orang lain.
Sadar, atau sabar, benar-benar sama, apapun yang kami ulas, kami tuturkan nyatanya tak jauh jauh dari “tentang dulu”.
Saling sindir. Sebenarnya tidak. Tapi kata-kata itu nyatanya meluncur bak papan selancar yang mendapat ombak tinggi.
Semula aku benar-benar memperhitungkan rasio yang matang, bahwa aku akan hanya lima belas menit dengan duduk, makan, kaku, lalu pulang.
Tapi hatiku nyatanya berkata lain. Ada banyak hal yang ingin aku uji, terutama diriku sendiri.
Apakah benar kekakuan yang selama ini menyekat hanya rasaku, hanya kekakuanku, ataukan benar ada?
Dan itu benar terjawab ketika lagu ini mengalir, ya lagu yang terakhir ku kirim di sisa-sisa desember dulu.
Seems like it was yesterday when I saw your face

Ya, seperti benar-benar baru kemarin, tapi nyatanya sekarang sudah tiga tahun. Terlihat baik dipermukaan tapi nyatanya?

You told me how proud you were but I walked away
If only I knew what I know today

I would hold you in my arms
I would take the pain away
Thank you for all you've done
Forgive all your mistakes.

There's nothing I wouldn't do
To hear your voice again.
Sometimes I wanna call you but I know you won't be there

Oh, I'm sorry for blaming you for everything I just couldn't do
And I've hurt myself by hurting you
I realize it now

Some days I feel broke inside but I won't admit
It’s seems true!

Sometimes I just wanna hide 'cause it's you I miss
And it's so hard to say goodbye when it comes to this

Would you tell me I was wrong?
Would you help me understand?
Are you looking down upon me?
Are you proud of who I am?

There's nothing I wouldn't do
To have just one more chance
To look into your eyes and see you looking back

Oh, I'm sorry for blaming you for everything I just couldn't do
And I've hurt myself, oh, oh, oh.

If I had just one more day
I would tell you how much that I've missed you since you've been away

Oh, it's dangerous
It's so out of line
To try and turn back time

I'm sorry for blaming you for everything I just couldn't do
And I've hurt myself by hurting
you
Top of Form
Bottom of Form
Top of Form
Bottom of Form