Kamis, 23 Juni 2016

Mendung di Langit Desember



Menyingkap Mendung di langit Desember
Rasanya ini sudah tak begitu pagi, hanya langit abu-abu itu nampak sayu menjadi tabir buat pendar-pendar matahari yang biasanya jam segini sudah menyilaukan.
Tak ada bunyi apapun yang membangunkanku… bahkan belakangan tanda tanda alam, yang menyerukan pagi datang tak tertangkap dengan baik oleh indra-indraku.
Yah, jam tidurku kutambah sesukaku. Padahal dulu aku penikmat malam. Mataku kerap bersahabat dengan film, buku atau sekedar melek tanpa kegiatan untuk menerka-nerka masa depan atau mengorek-ngorek masalalu.
Tapi mataku pagi ini begitu berbinar stelah menyibak tirai jendela… langit abu-abu.
Senada dengan kaos lengan panjang yang kupakai tidur semalam.
Entahlah beberapa tahun belakangan aku begitu mencintai abu-abu, yah sekalipun aku tak semaniak itu untuk berabu-abu dari ujung kaki ke ujung kepala.
Aku merasa abu-abu menyiratkan sesuatu, ya ketidak pastian… ia tidak cukup hitam namun juga tidak cukup putih, dia tidak mendefinisikan diri dengan terang-terangan. Abu-abu menjadi identitas yang cukup buat warna yang tak begitu banyak dicintai orang itu.
Sama dengan desember yang tak pernah jauh dari abu-abu, aku juga begitu mencintainya.
Entah kebetulan atau hanya manusia penuh drama sepertiku yang membuat ini seolah nyata.
Tapi Tuhan selalu menghadirkan orang-orang dengan andil cukup besar dalam hidupku menjelang bulan desember, dan setelah desember pergi orang-orang itu juga ikut luruh bersama terbaliknya kalender yang menandakan desember telah pergi.
Maklumi saja, aku hanya orang melankolis yang selalu memetaforakan cinta menjadi sajak-sajak yang berlebihan.
Sudah hamper lima tahun berturut-turut orang-orang itu datang dan kemudian pergi bersama desember.
Ya, ini belum cukup lama, sejak aku mengenal lagu Back to December nya Taylor Swift.
Beberapa orang yang datang dan pergi, sempat atau tak sempat ku miliki itu jelas datang bukan tanpa alasan.
Laki-laki pertama, sebulan dua bulan setelah aku meratapi kelajangan pertamaku tahun itu, dia datang sebagai seorang teman lama pendengar cerita di teras selepas senja. Tapi entahlah dia berekspektasi lebih dari sekedar pendengar cerita sementara aku tidak… lalu keberadaanya lenyap bersama awan-awan abu-abu yang bertransformasi menjadi butir-butir hujan.
Laki-laki kedua, sosok baru di tempat baru. Figure abangan yang menjadikanku adik dengan usia 18 tahun dibawah usianya yang menjelang 25 di bulan Desember. Tak ada yang kurang, aku bahkan sampai mempertanyakan jati diriku sebagai seorang wanita. Wanita mana yang tak ingin di kejar? Wanita mana yang tak luluh disuguhi film-film romantis penguras air mata setiap akhir pekan? Wanita mana yang tak mengharu biru untuk setiap perhatian yang kasat mata? Entah wanita macam apa aku ini… sekeras apa hatiku, dan setajam apa lidahku. Dia bahkan akhirnya memilih pergi, berkondensasi bersama awan-awan desember yang menyiram bumi.
Laki-laki ketiga, kadang aku melebih-lebihkan. Tapi siapa yang tidak? Bayangkan jika kita menemukan seorang sahabat yang telah satu declaki-laki keempat lebih tidak terdeteksi keberadaanya. Ah, aku begitu naif jika menyamakan kisahku dengan kisah-kisah FTV yang bertutur tentang sahabat lama yang hilang dan kembali dalam bentuk jodoh. Tapi nyatanya entah aku yang kurang peka, atau memang takdir yang tak seiya. Tapi nyatanya bukankah kita yang menentukan takdir kita sendiri? Yang jelas Laki-laki ketiga yang semula Nampak begitu ideal itu akhirnya juga hanyut terbawa hujannya desember yang datang sesuka hati.
Laki-laki keempat, ah menyebut namanya saat ini aku meresa hanya seperti ngengat sawah yang memang suka dengan lampu. Aku menemukan jati diriku, bahwa mungkin memang aku pengejar. Mengenalnya, merasakan bahwa ada banyak semangat hidup yang berkapilaritas juga di semangatku. Sosok religius yang sosialis, dan acapkali apatis. Tidak cukup buruk untuk diklasifikasikan menjadi kriteria yang lumayan ideal. Namun, bertepuk sebelah tangan rasanya menjadi bak palang kereta api, yang memberi kita pilihan menunggunya berlalu, berbalik arah atau berpindah halauan… bersama sekuntum mawar akhirnya aku membiarkannya pergi terhempas bersama angin yang menyibak awan desember menjelang hujan.
Lalu, ini juga desember. Tapi aku belum mengawali paragraph ini dengan nama yang tepat. Entahlah, sejatinya aku cukup lelah dengan kesendirian. Tak bisa dibilang sendiri memang, aku selalu ditemani mimpi-mimpiku, yang membuatku tetap hidup dan bergerak. Namun, rasa-rasanya aku kini bak cawan kosong kekeringan tak pernah terciprat air. Mimpi-mimpiku ternyata mengering, mereka butuh semangat yang menghidupinya. Mereka butuh passion yang menyelimutinya, agar tetap hangat dan hidup. Dan entah dihadirkan, atau menghadirkan rasanya, waktunya harus segera tiba. Aku butuh kehidupan, orang yang juga hidup dengan mimpinya, yang menghidupkanku lagi.
Hallo, desember, aku tak sabar menunggu nama di ujung paragraphku yang kusadur untuk mu.
Bersama abu-abunya awan desember, 14 Desember 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar