Menyingkap Mendung di langit
Desember
Rasanya ini sudah tak begitu pagi,
hanya langit abu-abu itu nampak sayu menjadi tabir buat pendar-pendar matahari
yang biasanya jam segini sudah menyilaukan.
Tak ada bunyi apapun yang
membangunkanku… bahkan belakangan tanda tanda alam, yang menyerukan pagi datang
tak tertangkap dengan baik oleh indra-indraku.
Yah, jam tidurku kutambah sesukaku.
Padahal dulu aku penikmat malam. Mataku kerap bersahabat dengan film, buku atau
sekedar melek tanpa kegiatan untuk menerka-nerka masa depan atau
mengorek-ngorek masalalu.
Tapi mataku pagi ini begitu berbinar
stelah menyibak tirai jendela… langit abu-abu.
Senada dengan kaos lengan panjang
yang kupakai tidur semalam.
Entahlah beberapa tahun belakangan
aku begitu mencintai abu-abu, yah sekalipun aku tak semaniak itu untuk
berabu-abu dari ujung kaki ke ujung kepala.
Aku merasa abu-abu menyiratkan
sesuatu, ya ketidak pastian… ia tidak cukup hitam namun juga tidak cukup putih,
dia tidak mendefinisikan diri dengan terang-terangan. Abu-abu menjadi identitas
yang cukup buat warna yang tak begitu banyak dicintai orang itu.
Sama dengan desember yang tak pernah
jauh dari abu-abu, aku juga begitu mencintainya.
Entah kebetulan atau hanya manusia
penuh drama sepertiku yang membuat ini seolah nyata.
Tapi Tuhan selalu menghadirkan
orang-orang dengan andil cukup besar dalam hidupku menjelang bulan desember,
dan setelah desember pergi orang-orang itu juga ikut luruh bersama terbaliknya
kalender yang menandakan desember telah pergi.
Maklumi saja, aku hanya orang
melankolis yang selalu memetaforakan cinta menjadi sajak-sajak yang berlebihan.
Sudah hamper lima tahun
berturut-turut orang-orang itu datang dan kemudian pergi bersama desember.
Ya, ini belum cukup lama, sejak aku
mengenal lagu Back to December nya Taylor Swift.
Beberapa orang yang datang dan
pergi, sempat atau tak sempat ku miliki itu jelas datang bukan tanpa alasan.
Laki-laki pertama, sebulan dua bulan
setelah aku meratapi kelajangan pertamaku tahun itu, dia datang sebagai seorang
teman lama pendengar cerita di teras selepas senja. Tapi entahlah dia
berekspektasi lebih dari sekedar pendengar cerita sementara aku tidak… lalu
keberadaanya lenyap bersama awan-awan abu-abu yang bertransformasi menjadi
butir-butir hujan.
Laki-laki kedua, sosok baru di
tempat baru. Figure abangan yang menjadikanku adik dengan usia 18 tahun dibawah
usianya yang menjelang 25 di bulan Desember. Tak ada yang kurang, aku bahkan
sampai mempertanyakan jati diriku sebagai seorang wanita. Wanita mana yang tak
ingin di kejar? Wanita mana yang tak luluh disuguhi film-film romantis penguras
air mata setiap akhir pekan? Wanita mana yang tak mengharu biru untuk setiap
perhatian yang kasat mata? Entah wanita macam apa aku ini… sekeras apa hatiku,
dan setajam apa lidahku. Dia bahkan akhirnya memilih pergi, berkondensasi
bersama awan-awan desember yang menyiram bumi.
Laki-laki ketiga, kadang aku
melebih-lebihkan. Tapi siapa yang tidak? Bayangkan jika kita menemukan seorang
sahabat yang telah satu declaki-laki keempat lebih tidak terdeteksi
keberadaanya. Ah, aku begitu naif jika menyamakan kisahku dengan kisah-kisah
FTV yang bertutur tentang sahabat lama yang hilang dan kembali dalam bentuk
jodoh. Tapi nyatanya entah aku yang kurang peka, atau memang takdir yang tak
seiya. Tapi nyatanya bukankah kita yang menentukan takdir kita sendiri? Yang
jelas Laki-laki ketiga yang semula Nampak begitu ideal itu akhirnya juga hanyut
terbawa hujannya desember yang datang sesuka hati.
Laki-laki keempat, ah menyebut
namanya saat ini aku meresa hanya seperti ngengat sawah yang memang suka dengan
lampu. Aku menemukan jati diriku, bahwa mungkin memang aku pengejar.
Mengenalnya, merasakan bahwa ada banyak semangat hidup yang berkapilaritas juga
di semangatku. Sosok religius yang sosialis, dan acapkali apatis. Tidak cukup
buruk untuk diklasifikasikan menjadi kriteria yang lumayan ideal. Namun,
bertepuk sebelah tangan rasanya menjadi bak palang kereta api, yang memberi
kita pilihan menunggunya berlalu, berbalik arah atau berpindah halauan… bersama
sekuntum mawar akhirnya aku membiarkannya pergi terhempas bersama angin yang
menyibak awan desember menjelang hujan.
Lalu, ini juga desember. Tapi aku
belum mengawali paragraph ini dengan nama yang tepat. Entahlah, sejatinya aku
cukup lelah dengan kesendirian. Tak bisa dibilang sendiri memang, aku selalu
ditemani mimpi-mimpiku, yang membuatku tetap hidup dan bergerak. Namun,
rasa-rasanya aku kini bak cawan kosong kekeringan tak pernah terciprat air.
Mimpi-mimpiku ternyata mengering, mereka butuh semangat yang menghidupinya.
Mereka butuh passion yang menyelimutinya, agar tetap hangat dan hidup. Dan
entah dihadirkan, atau menghadirkan rasanya, waktunya harus segera tiba. Aku
butuh kehidupan, orang yang juga hidup dengan mimpinya, yang menghidupkanku
lagi.
Hallo, desember, aku tak sabar
menunggu nama di ujung paragraphku yang kusadur untuk mu.
Bersama
abu-abunya awan desember, 14 Desember 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar