Kamis, 23 Juni 2016

Penerimaan



Untuk menemukan seseorang yang dapat menjadi tempatmu membagi kebahagiaan itu mudah.
Tapi tidak dengan berbagi kesulitan, pergumulan hidup, pilihan-pilihan yang sulit dan lebih lagi seseorang untuk tidak berbagi apa-apa.
Penerimaan yang sejati adalah ketika kita tidak menerima apa-apa.
Hal yang terutama paling aku khawatirkan dalam hidup adalah soal penerimaan.
Karena manusia sejatinya bukan hanya seonggok daging tanpa asal-usul.
Penerimaan tentang bagaimana aku dilahirkan, penerimaan tentang bagaimana aku dibesarkan, dan penerimaan tentang apa dan siapa aku sebenarnya, penerimaan terhadap setiap hal, setiap orang yang berhubungan dengan ku, penerimaan tentang siapa aku di masa lalu, penerimaan siapa aku dimasa depan.
Sering kali yang aku dapatkan adalah ‘cukup tahu’ saja. Padahal untuk memulai sesuatu hal yang pertama kita butuhkan untuk memulai adalah penerimaan.
Setiap manusia secara kodrati adalah makhluk yang menuntut kesempurnaan pada setiap hal, menuntut kesempurnaan adalah sama halnya menuntut kemustahilan. Kesempurnaan adalah salah satu hal didunia ini yang bersifat relatif, tak terukur.
“Accepting imperfection is the way to make it perfect.”
Untuk pertama aku menggali seseorang mulai dari setiap kekurangannya.
Tidak dipungkiri setiap orang memiliki ukuran, takaran, kriteria untuk setiap orang yang datang ke dalam hidupnya.
‘menilai’ menjadi hal yang begitu dasar untuk dilakukan dalam rangka menentukan ketepatan atau ketidak tepatan seseorang, terutama ketika kita dihadapkan pada pilihan-pilihan.
Tapi bagaimana dengan penerimaan?
Penerimaan bukan sekedar karena taka da lagi pilihan. Justru menerima merupakan pilihan tersulit.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar