Untuk menemukan seseorang yang dapat menjadi tempatmu membagi
kebahagiaan itu mudah.
Tapi tidak dengan berbagi kesulitan, pergumulan hidup,
pilihan-pilihan yang sulit dan lebih lagi seseorang untuk tidak berbagi
apa-apa.
Penerimaan yang sejati adalah ketika kita tidak menerima
apa-apa.
Hal yang terutama paling aku khawatirkan dalam hidup adalah
soal penerimaan.
Karena manusia sejatinya bukan hanya seonggok daging tanpa
asal-usul.
Penerimaan tentang bagaimana aku dilahirkan, penerimaan
tentang bagaimana aku dibesarkan, dan penerimaan tentang apa dan siapa aku
sebenarnya, penerimaan terhadap setiap hal, setiap orang yang berhubungan
dengan ku, penerimaan tentang siapa aku di masa lalu, penerimaan siapa aku
dimasa depan.
Sering kali yang aku dapatkan adalah ‘cukup tahu’ saja.
Padahal untuk memulai sesuatu hal yang pertama kita butuhkan untuk memulai
adalah penerimaan.
Setiap manusia secara kodrati adalah makhluk yang menuntut
kesempurnaan pada setiap hal, menuntut kesempurnaan adalah sama halnya menuntut
kemustahilan. Kesempurnaan adalah salah satu hal didunia ini yang bersifat
relatif, tak terukur.
“Accepting imperfection is the way to make it perfect.”
Untuk pertama aku menggali seseorang mulai dari setiap
kekurangannya.
Tidak dipungkiri setiap orang memiliki ukuran, takaran,
kriteria untuk setiap orang yang datang ke dalam hidupnya.
‘menilai’ menjadi hal yang begitu dasar untuk dilakukan dalam
rangka menentukan ketepatan atau ketidak tepatan seseorang, terutama ketika
kita dihadapkan pada pilihan-pilihan.
Tapi bagaimana dengan penerimaan?
Penerimaan bukan sekedar karena taka da lagi pilihan. Justru
menerima merupakan pilihan tersulit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar