Untuk engkau yang sejenak pernah menjadi pengisi harapan
hati.
Jika memang sekarang aku memutuskan pergi, aku tidak
menyalahkanmu.
Jelas aku yang salah.
Hai, kamu yang larut malam dua tahun lalu waktu itu membawa
senyum lewat tulisan yang diantar oleh pesan online.
Dua tiga hari aku menikmati percakapan ngalor-ngidul yang
terus terang membutaku nyaman.
Sampai saat dimana engkau menyampaikan padaku tantang rasa
yang kau punya, ya rasa yang tadinya kupikir itu untukku.
Dihatiku mulai berbuih, gelembung-gelembung luka yang
membuatku mulai sadar bahwa aku mulai berharap lebih.
Bukan sekedar tentang aku yang menjadi pendengae cerita
larut malam menjelang pagimu, tentang bagaimana engkau memuja dia yang menjadi
mimpimu.
Bukan sekedar empati untukmu yang menikmati perjuangan
kerasmu yang jatuh bangun mengejar dan memperjuangkannya.
Bukan sekedar air mata haru yang kusuguhkan untuk lukamu
yang terjembab harapan palsu, atau cinta mu yang berjalan sumbang karena
bertepuk sebelah tangan.
Ah, rasa-rasanya aku yang terlalu lancang untuk menyebut ini
sesuatu. Ya, setelah aku tahu. Aku harusnya bertanya balik apakah aku ini? Atau
tepatnya siapakah aku ini.
Tapi sungguh dari kejauhan aku mengamati sejengkal demi
sejengkal kesempurnaanmu.
Hanya mengamati.
Dari setiap penggal cerita sendumu, aku selalu berharap
bahwa harusnya “jika dan hanya jika, aku seberuntung itu untuk kau
perjuangkan.”
Saat engkau menuturkan luka-lukamu setelah terjembab
dengannya, aku justru makin berandai “coba, aku… pasti kamu tidak akan begini
jadinya.”
Dari setiap ceritamu, yang terlalu lugas aku kadang bertanya
apa kamu sejenakpun tidak pernah memandang aku dari sisi manapun. Tapi itu
hanya pertanyaan antara aku dan hatiku. Bukan aku dan kamu.
Aku, pernah mengirim secarik senyum lewat sepucuk surat dan
replica papoy kesukaanmu di hari ulang tahunmu.
Lalu setelah seminggu, aku hanya mendapat balasan “Maaf, dik
aku nggak suka boneka.”
Aku cukup mencerna bagaimana sebenarnya itu maksudnya. Aku
paham.
Itu bukan soal boneka. Persetan soal boneka atau apapun itu.
Yang jelas karena itu dariku, kan?
Lalu aku mulai diam, diam dari ucapan selamat pagi atau
sapaan larut malam lainnya.
Aku hanya berharap engkau mencariku.
Tapi benar, kamu datang. Bukan, bukan untuk mencariku.
Untuk mencari tempatmu bercerita.
Tak, masalah, memang seharusnya aku paham soal itu.
Dua tiga kali aku ingat betul, kamu menceritakan tentang
‘kemenyerahanmu’ atas pengejaranmu yang tak kunjung ada kepastiannya itu.
Tapi kata-kata itu toh akhirnya terganti dengan
kebahagiaanmu setelah jauh-jauh menyebrang dua kota dan mengantarnya pulang,
atau ceritamu tentang berdoa bersama di gua maria.
Ah, untuk apa aku percaya lagi, ya kan?
Tapi rasa rasanya aku menemukan beberapa penggal hal yang ku
cari.
Orang yang paham tentang perbedaan, hal-hal rumit berbau
keluarga dan agama.
Orang yang menyandarkan kehidupannya dengan berlutut didepan
altar dan mengenal bunda maria dengan baik.
Orang yang mencintai dunia anak-anak, apa lagi anak
berkebutuhan khusus, dimana lagi dapat kutemukan.
Orang yang suka berdiri diatas kaki sendiri, dan tak enggan
berpeluh.
Orang yang optimis bahkan ketika diujung pengharapan yang
hampir habis.
Setiap menit yang bertambah dari tahun-tahun ini, aku makin menyukai
sepenggal demi sepenggal dirimu. Aku tidak berkilah atau berdusta tentang ini.
Sungguh, aku merasakan apa yang lama tidak aku rasakan.
Terutama tentang “mengejar”.
Sampai hari ini aku tidak dapat lagi berdamai dengan diriku
sendiri.
Seikat bunga merah jambu, dari benda dengan daya urai sangat
rendah, ya mawar.
Ah, apapun artinya mawar. Ia tetap saja sekuntum bunga yang
tidak pernah menyembunyikan dusta. Mawar selalu menceritakan tentang cinta.
Cinta apapun itu.
Merah jambu, mungkin mengisyaratkan cinta yang dipendam malu
malu, tapi akhirnya melahirkan keberanian besar untuk muncul ke permukaan.
Oh, andai waktu bisa di putar, apakah aku akan memilh untuk
melupakan sema sekali tentang mawar itu? Jawabannya tidak.
Aku tidak menghitung peser-peser uang atau lembar-lebar
rupiah yang ku keluarkan. Bahkan itu sama sekali taka ada artinya.
Tersiram peluh, terbakar matahari, berburu waktu seperti
itu, aku belum pernah melakukannya untuk siapapun.
Aku hanya mengakhirinya dengan tersenyum lebar di depan
kaca. Bahwa aku kemudian terlahir baru menjadi pribadi yang seberani dan
selancang ini memperjuangkan keakuanku.
Entah siapa kelak yang memasangakan dasi itu untukmu, aku
hanya mengerti filosofi yang terkait disetiap helai benang dasi itu. Bahwa dasi
akan selalu terkalung di leher orang yang memiliki masa depan cerah. Juga kamu
aku berharap masa depanmu juga demikian.
Lalu, aku belum akan menyimpulkan sesuatu, aku bukan tuhan
yang akan menyatakan ini sudah berakhir atau belum. Tapi aku harus tau diri
bahwa sudah cukup sampai sini saja kenekatanku yang konyol ini.
Biar kamu yang memutuskan, tuhan yang menentukan…dan waktu
yang menjawabnya.
10 Sepetember 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar