Kamis, 23 Juni 2016

Aku tak menyesal, tapi aku minta maaf



9/1/2016
Jujurlah pada HATIMU...
Tikar malam tergulung beranjak pagi… pagi sangat pagi.
Sepenggal lagu dari film legendaris yang sebentar lagi akan tayang sekuel keduanya, ada apa dengan cinta?
Ya, ada apa dengan cinta?
Entahlah setiap penggal lirik lagu selalu bermakna mendalam.
Seperti hari ini, sepenggal lagu Christina Aguilera, Hurt.
“I’m sorry for blaming you… for everything that I couldn’t do…”
Part itu yang paling aku sukai.
Dan seakan sepanjang sore ini aku menguji sesuatu.
Desember sudah lepas, januari sekarang, terhitung lepas dari tiga tahun desember waktu itu.
Ya, sesorean ini aku duduk dengan sesorang yang lahir di bulan desember, aku tak tahu banyak tentang dia. Tapi aku tahu dia lahir bulan desember,dan  tahun lepas tahun aku masih selalu menyempatkan mengirim selamat di setiap desembernya untuk setiap hari lahirnya.
Jika gerak bisa dihitung, jika sikap bisa diukur, apa yang harus ku katakana tentang kekakuan yang tak kunjung melunak.
Tak pernah salah jika kutulis…
“We’re pretend that we’re just fine. But I know from your eyes that you’re not. Because you’re still keep your hurt that I made few years ago.”
Ya, aku sering berpikir kalau kami bukan siapa-siapa, ya terang saja, kami tak pernah kita, dan tak pernah menjadi apa-apa.
Mutiara akan terlihat bulat sempurna, indah dan berkilau ketika terkalung dileher orang lain.
Namun, ketika berada di leher kita akan nampak jelas bahwa sebenarnya iya tak bulat sempurna, banyak lekukan.
Ketika bertengger didepan mata kita ia akan kehilangan kilaunya karena sesikit cahaya yang dapat di pantulkan ke pupil kita. Namun lain ketika terkalung di leher orang lain.
Sadar, atau sabar, benar-benar sama, apapun yang kami ulas, kami tuturkan nyatanya tak jauh jauh dari “tentang dulu”.
Saling sindir. Sebenarnya tidak. Tapi kata-kata itu nyatanya meluncur bak papan selancar yang mendapat ombak tinggi.
Semula aku benar-benar memperhitungkan rasio yang matang, bahwa aku akan hanya lima belas menit dengan duduk, makan, kaku, lalu pulang.
Tapi hatiku nyatanya berkata lain. Ada banyak hal yang ingin aku uji, terutama diriku sendiri.
Apakah benar kekakuan yang selama ini menyekat hanya rasaku, hanya kekakuanku, ataukan benar ada?
Dan itu benar terjawab ketika lagu ini mengalir, ya lagu yang terakhir ku kirim di sisa-sisa desember dulu.
Seems like it was yesterday when I saw your face

Ya, seperti benar-benar baru kemarin, tapi nyatanya sekarang sudah tiga tahun. Terlihat baik dipermukaan tapi nyatanya?

You told me how proud you were but I walked away
If only I knew what I know today

I would hold you in my arms
I would take the pain away
Thank you for all you've done
Forgive all your mistakes.

There's nothing I wouldn't do
To hear your voice again.
Sometimes I wanna call you but I know you won't be there

Oh, I'm sorry for blaming you for everything I just couldn't do
And I've hurt myself by hurting you
I realize it now

Some days I feel broke inside but I won't admit
It’s seems true!

Sometimes I just wanna hide 'cause it's you I miss
And it's so hard to say goodbye when it comes to this

Would you tell me I was wrong?
Would you help me understand?
Are you looking down upon me?
Are you proud of who I am?

There's nothing I wouldn't do
To have just one more chance
To look into your eyes and see you looking back

Oh, I'm sorry for blaming you for everything I just couldn't do
And I've hurt myself, oh, oh, oh.

If I had just one more day
I would tell you how much that I've missed you since you've been away

Oh, it's dangerous
It's so out of line
To try and turn back time

I'm sorry for blaming you for everything I just couldn't do
And I've hurt myself by hurting
you
Top of Form
Bottom of Form
Top of Form
Bottom of Form

Tidak ada komentar:

Posting Komentar