Kamis, 23 Juni 2016

Hidup ini berputar



Hidup ini berputar, diatas, dibawah, itu hanya soal waktu.
Apa yang kau pakai untuk mengukur itu akan digunakan juga untuk mengukur.
Ketika engkau merasa disia-siakan itu adalah saat dimana kau harus mulai mengingat siapa yang pernah engkau sia-siakan.
Ketika engkau merasa tak berarti buat seseorang yang begitu kau cintai itu artinya engkau harus berpikir sekali lagi, siapa orang yang pernah kau anggap tak berarti di hidupmu.
Ketika engkau ditinggalkan tentu engaku pernah meninggalkan.
Lalu lihat air matamu itu, dulu pasti pernah ada ornag yang tak pernah ingin melihat air matamu itu, di sudut sana pasti pernah ada orang yang yang berdiri dan berharap untuk bisa menjagamu dari air mata itu.
Ketika engkau hanya berpikir untuk mencintai, mencintai, mencintai…kamua akan kehilangan banyak hal. Ingatlah bahwa engkau hidup juga untuk dicintai, jangan pernah lupa bahwa dicintai itu penting.
Ketika engkau saat ini merasa di bawah, merasa ada di sebuah titik dimana engkau duduk dalam keterpurukan, maka sadarlah dan segeralah bangun berdiri.
Tengok kembali apa yang pernah engkau lalui. Orang yang sungguh mencintaimu mustahil tak akan memaafkanmu. Dengan catatan ia sungguh mencintaimu. Maaf adalah kata pembaharu yang luarbiasa, sebuah makna tentang memulai kembali, satu hal yang bahkan dapat membangun puing—puing yang telah hancur sekalipun. Maka, pertama-tama maafkanlah dirimu, mintalah sebuah maaf yang membersihkanmu dari segala kelalaian dan kekeliruan yang telah lampau.
Sebutir maaf itu akan membantu engkau, maaf akan menjadi batu pertama untuk pondasi kehidupanmu.
Tengok ke dalam dasar hatimu, bahwa ketika engkau terjatuh engkau pernah berdiri diatas sebuah kesombongan, keangkuhan untuk menerima orang yang mencintaimu dengan cara yang baik, engkau hanya akan mengerti rasanya diabaikan bukan ketika engkau mengabaikan, tapi ketika engkau diabaikan.
Padahal menerima itu bukankah hal yang sulit, kadang kita terperangkap dengan presepsi konyol bahwa hanya orang-orang tertentu yang layak memberi untuk kita. Lalu ketika itu ditakarkan kepada kita, saat kita dianggap tidak layak untuk memberi. Bagaimana? Tidakkah itu menyakitkan, ya, tentunya sama dengan apa yang engkau rasakan, bukan?

Aku menengok kembali tentang apa yang kin aku lewati, saat ini aku merasa sendirian. Lalu aku menengok kebelakang, tentunya kau pernah meninggalkan seseorang dan membuatnya merasa sendiri. Aku merasa apa yang pernah aku ukurkan saat ini benar-benar menjadi ukuranku. Ini bukan soal diatas atau dibawah. Ini hanya soal bagaimana aku menempatkan diriku. Aku menempatkan diriku di tempat dimana aku dulu pernah menempatkan orang orang lain seperti aku saat ini. direndahkan, dicampakkan, dipandang tidak layak, diperlakukan sebelah tangan dan separuh muka. Seberapa banyak aku diabaikan tentu saja setara dengan seberapa banyak aku mengabaikan. Ini berada di bawah bukan berarti kehancuran.
Ketika didalam kegelapan bukankah suasana yang tepat untuk menelanjangi diri tanpa terlihat orang lain, semakin gelap justru semakin baik, baju-baju kesombongan, keangkuhan, perasaan berhak menilai dan penilaian diri berlebihan harus segera ditanggalkan sehingga kepribadianmu yang indah tidak lagi tertutupi dengan hal-hal yang tidak sepatutnya.
14 September 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar