Hidup ini berputar, diatas, dibawah, itu hanya soal waktu.
Apa yang kau pakai untuk mengukur itu akan digunakan juga
untuk mengukur.
Ketika engkau merasa disia-siakan itu adalah saat dimana kau
harus mulai mengingat siapa yang pernah engkau sia-siakan.
Ketika engkau merasa tak berarti buat seseorang yang begitu
kau cintai itu artinya engkau harus berpikir sekali lagi, siapa orang yang
pernah kau anggap tak berarti di hidupmu.
Ketika engkau ditinggalkan tentu engaku pernah meninggalkan.
Lalu lihat air matamu itu, dulu pasti pernah ada ornag yang
tak pernah ingin melihat air matamu itu, di sudut sana pasti pernah ada orang
yang yang berdiri dan berharap untuk bisa menjagamu dari air mata itu.
Ketika engkau hanya berpikir untuk mencintai, mencintai,
mencintai…kamua akan kehilangan banyak hal. Ingatlah bahwa engkau hidup juga
untuk dicintai, jangan pernah lupa bahwa dicintai itu penting.
Ketika engkau saat ini merasa di bawah, merasa ada di sebuah
titik dimana engkau duduk dalam keterpurukan, maka sadarlah dan segeralah
bangun berdiri.
Tengok kembali apa yang pernah engkau lalui. Orang yang
sungguh mencintaimu mustahil tak akan memaafkanmu. Dengan catatan ia sungguh
mencintaimu. Maaf adalah kata pembaharu yang luarbiasa, sebuah makna tentang
memulai kembali, satu hal yang bahkan dapat membangun puing—puing yang telah
hancur sekalipun. Maka, pertama-tama maafkanlah dirimu, mintalah sebuah maaf
yang membersihkanmu dari segala kelalaian dan kekeliruan yang telah lampau.
Sebutir maaf itu akan membantu engkau, maaf akan menjadi
batu pertama untuk pondasi kehidupanmu.
Tengok ke dalam dasar hatimu, bahwa ketika engkau terjatuh
engkau pernah berdiri diatas sebuah kesombongan, keangkuhan untuk menerima
orang yang mencintaimu dengan cara yang baik, engkau hanya akan mengerti
rasanya diabaikan bukan ketika engkau mengabaikan, tapi ketika engkau
diabaikan.
Padahal menerima itu bukankah hal yang sulit, kadang kita
terperangkap dengan presepsi konyol bahwa hanya orang-orang tertentu yang layak
memberi untuk kita. Lalu ketika itu ditakarkan kepada kita, saat kita dianggap
tidak layak untuk memberi. Bagaimana? Tidakkah itu menyakitkan, ya, tentunya
sama dengan apa yang engkau rasakan, bukan?
Aku menengok kembali tentang apa yang kin aku lewati, saat
ini aku merasa sendirian. Lalu aku menengok kebelakang, tentunya kau pernah
meninggalkan seseorang dan membuatnya merasa sendiri. Aku merasa apa yang
pernah aku ukurkan saat ini benar-benar menjadi ukuranku. Ini bukan soal diatas
atau dibawah. Ini hanya soal bagaimana aku menempatkan diriku. Aku menempatkan
diriku di tempat dimana aku dulu pernah menempatkan orang orang lain seperti
aku saat ini. direndahkan, dicampakkan, dipandang tidak layak, diperlakukan
sebelah tangan dan separuh muka. Seberapa banyak aku diabaikan tentu saja
setara dengan seberapa banyak aku mengabaikan. Ini berada di bawah bukan
berarti kehancuran.
Ketika didalam kegelapan bukankah suasana yang tepat untuk
menelanjangi diri tanpa terlihat orang lain, semakin gelap justru semakin baik,
baju-baju kesombongan, keangkuhan, perasaan berhak menilai dan penilaian diri
berlebihan harus segera ditanggalkan sehingga kepribadianmu yang indah tidak
lagi tertutupi dengan hal-hal yang tidak sepatutnya.
14 September 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar