Masih, hujan kedua di bulan November…
Merindukanmu semacam melemahkan syaraf-syarafku.
Debar debar yang membuatku merindukan, meski itu hanya nama
atau gambarmu.
Hai, kejauhanmu tak membuatku berhenti menggambarkan
parasmu.
Kebaradaanmu yang taidak aku ketahui lintang bujurnyapun tak
menyurutkan desir desir yang mendadak datang ini.
Oh, hujankah yang medatangkan kecamuk ini?
Jelas bukan.
Hujan yang mengobatinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar