Jumat, 29 September 2017

Candu

Ada kehangatan yang menjadi candu buatku setiap pagi, bukan secangkir teh, bukan. Tawamu dujung panggilan telepon yang selalu mampu membangunkan syaraf-syarafku yang semula tertidur dalam sekejap.
Tentang apapun yang kuceritakan, yang kau ceritakan, dari mulai jersey bola sampai sayur rebung kuah santan, tak ada yang penting memang, tapi menjadi penting ketika itu adalah suaramu.
Tidak ada gombalan menyanjung yang menggetarkan hati, apalagi rayuan mendayu yang meluluhkan rasa. Hanya guyonan guyonan sederhana, dan cara-cara unik bagaimana kamu memandangku dari sudut pandangmu, selalu mampu membuat aku tergelak dan bahagia.
Ada kerinduan besar, yang semakin lama bukan sekedar tentang rindu terhadap pertemuan.
Tapi menjadi kerinduan untuk hal-hal yang belum pernah kulakukan, semacam rindu untuk membuatkanmu secangkir teh di pagi hari, atau menyibak rambut depanmu saat kamu bangun.
Rasa-rasanya, berkirim pesan, telepon dan perjumpaan tiap akhir pekan tak lagi cukup.
Dan sendiriku semakin hari, semakin membuatku merasa tak cukup lagi.

Senin, 25 September 2017

Senja Tak Selalu Jingga

Aku terpekur di sudut meja
Menyapu pandang ke bias-bias abu-abu dari kaca jendela
Lalu melempar penglihatanku ke jam dinding di sisi kiri
Menjelang jam enam
Tak ada tanda-tanda matahari akan terbenam atau tetap mengeram
Langit tak juga berpendar, warnanya tetap sama
Makin petang mungkin, langit justru menghitam
Di sisi kanan, biasanya ia sempatkan melambaikan sulur-surlur jingganya sebelum pergi
Tapi sore ini, mungkin ia lupa
Atau bisa jadi ia tidak pergi lewat sisi kananku
Kalau kamu sudah tau langit abu-abu
Percayalah, tak akan ada jingga di batas cakrawala sana
Kau hanya perlu tau
Dengan atau tanpa jingga, senja tetap tiba
Dengan atau tanpa jingga, senja tetap senja

Senin, 11 September 2017

Sepotong Sajak Tentang Rindu

Lagi-lagi aku menuliskanmu
Sepotong sajak tentang rindu
Yang terlalu pagi membangunkanku
Mengusikku untuk mendengar serak suaramu

Diluar jendela langit abu-abu
Aku meringkuk di sudut ruangan
Mengukir-ukir namamu di dinding dengan ibujariku
Kamu bilang, aku tidak sendiri, ada kamu
Aku bukan kesepian, aku biasa sendirian, 
aku cuma merasa kamu dihatiku terlalu memakan banyak ruang

Ah, rinduku tak juga habis, pagi ini
Masih teronggok semua tersisakan
Sama sekali tak berkurang
Semakin menuntut menunggu perjumpaan

Jumat, 08 September 2017

Kau Kira Aku Dukun

Bagaimana caraku membaca rindumu kalau kamu diam, aku bukan ahli nujum yang pandai menebak hati?
Bagaimana aku bisa menerka kalau kamu ingin aku kalau tak kamu ungkapkan, aku bukan cenayang yang bisa membaca pikiran?
Bagaimana aku bisa mengerti kamu mencintaiku, kalau kamu tak menunjukkannya, aku bukan peramal yang bisa mengetahui apakah kamu memiliki rasa yang sama?

Merajut Rindu

Aku menarik benang-benang penantianku yang mulai kusut
Aku memilin rasa rindu
Mengaitnya dengan setiap ketidakpastian
Lalu merajut helai demi helai dengan harapan

Satu atau dua hari lagi mungkin, rajutan rindu ini terbentuk
Menjadi lembar-lembar ungkapan rasa yang bisa kamu baca polanya
Jariku tak pernah lelah menari bersama jarum, walau kadang harus terluka olehnya
Tanganku tak pernah jenuh, meski kadang sampai kelu aku bersabar

Rumah

Mari kita membangun rumah kita sendiri, menggambar ruang demi ruangnya, kemudian menata batu batanya, menempatkan jendela kursi dan vas bunga, menata rak buku, cangkir dan selimut di tempat yang kita suka. Kita memilih warna dinding dan pola tirainya.
We built our home, not buying a house.
Lalu kita membuat halaman belakang untuk aku menanam bunga, atau sebuah kolam untuk kamu memelihara ikan.
Di beranda kelak kita akan menghabiskan pagi dan sore sambil kamu membaca koran harian dan aku merajut, ada halaman tempat dimana anak-anak belajar naik sepeda, ada dapur yang tungkunya selalu hangat tempat kamu menertawakan boluku yang bantat, anak-anak mengeluhkan PR matematikanya diruang tengah, dan kursi malas tempat kita saling memijit punggung kita kelak saat renta. Lekas kita bangun, tempat dimana kita menemukan makna pulang.

Selamat Pagi

Sejauh ini aku selalu merasa baik saja
Bahuku cukup kuat untuk menopang setiap lelah
Kakiku cukup kekar untuk berjalan jauh sendirian
Lenganku sudah terbiasa memeluk diri ketika kesepian
Aku merasa aman berjalan larut malam
Aku tak pernah takut tersesat mengunjungi kota-kota asing
Aku biasa bepergian tanpa ada yang mengantar
Sampai hari ini aku mendapati diriku meringkuk rapuh di sudut ruangan, 
dan aku tau aku sedang tidak baik-baik saja
Tanpa kamu menyapaku selamat pagi

Belokan Jalan ke Rumahku


Gelap ini menyelimutiku dengan banyak rasa yang kuterjemahkan sebagai ketakutan
Khawatir, kala mengingat keberadaanmu membatasiku dengan jarak, lalu ingat aku tak bisa kemana-mana, bagaimana jika ada yang lebih dekat dan tak berbatas?
Gelisah, dengan rasa takut kehilangan, lalu aku ingat aku bukan siapa-siapa, bagaimana jika ada yang menjadikanmu milik?
Rindu, pada genggaman tangan besarmu, lalu aku ingat aku bahkan belum pernah merasakan jemarinya, bagaimana jika jari-jari lain lebih nyaman untuk kau genggam?
Bertanya-tanya, apa kamu mau tau aku rindu, aku ingat bahwa aku tak pernah mengatakannya, bagaimana kalau kamu mengabaikan dan menebus rindu-rindu yang lain yang terkatakan?
Risau, kalau-kalau saat kamu kembali kamu lupa jalan ke rumahku, aku ingat ada begitu banyak rumah yang bisa kau tuju, bagaimana jika kamu menghafal jalan menuju rumah yang lain?

Kukira ini rasa

Memang hampir setiap malam aku terlelap tidur bersama dongeng masa kecilmu
Memang aku terbiasa mengawali hari dengan mendengar suara serak bangun tidurmu
Memang aku sering menimba semangat dari gelak tawamu
Memang aku selalu lari padamu untuk memperoleh kekuatan disaat-saat tersulitku dari kesabaranmu
Memang aku hanya mampu menemukan kesejatian diriku dari kesederhanaanmu
Lalu berhari-hari tanpa itu semua, aku merasa kehilangan diriku, semula kupikir itu hanya karena aku terbiasa...
Ah, mungkin cuma karena terbiasa...
Semoga ini cuma karena terbiasa....
Kekhawatiranku masih sama
Kukira ini rasa

Semesta Menerjemahkan Rindu

Aku melihat gumpalan-gumpalan abu-abu itu bukan mendung
Ialah pahatan-pahatan rindu
Ialah ukiran-ukiran risau
Ialah pintalan-pintalan rasa kacau

Aku menggigil merasakan udara menusuk-nusuk tulang, ini bukan hawa musim dingin
Inilah kata-kata yang menyublim menjadi tanya
Inilah resah menguap membentuk lara
Inilah kekawatiran yang menjelma doa

Aku menengadah dan butir-butir air yang berjatuhan di wajahku, bukan hujan
Adalah luruhnya endapan dari melelahkannya penantian
Adalah riak-riak kegelisahan
Adalah tetesan-tetesan ungkapan rasa takut kehilangan

Benih yang tumbuh

Kamu yang menanamnya diam-diam benih itu di ladangku
Ladang gersang, yang aku sendiripun tak tau apa yang bisa tumbuh di sana
Jangankan rumput atau pohon berbunga
Ilalang pun memilih pergi
Kamu yang memilih menanamnya di sana
di tanah tandus tak berpenghuni, yang sedikit rusak karena dulunya ditanami
Tapi dicabut paksa sebelum masa panennya untuk dipindah ke ladang lain oleh pemiliknya
Entah apa yang kau yakini untuk menanamnya di kebunku
Ketika suatu pagi kemudian kudapati
Benih itu mulai hidup
Ia tumbuh dan mengakar cukup dalam
Kuncup mulai berdaun
Batangnya mulai kokoh
Ah, yang kutakutkan ini musim kemarau
Apakah akan tetap hidup?
Kubilang padamu
Kalau hendak kamu cabut benih itu
Setidaknya tunggulah sampai musim hujan dulu
Setidaknya akarnya tidak akan hancur
Sekiranya tanah yang ditanami juga tak ikut rusak
Bila tanah itu rusak,
Kau tau tak lagi akan mudah ditanami
Tak lagi cepat untuk benih lain bisa tumbuh di sana
Tapi katamu,
Tidak akan lagi dipindah benih yang sudah ditanam
Sudah kau tentukan di sini tempatnya, entah hujan entah kemarau akan tetap di sini
Kalau memang akan hidup, kau akan memupuk dan menyiramnya
Supaya berbunga dan kelak berbuah
Kalau begitu
Lalu esok atau lusa, aku akan mulai memagarinya
Supaya tak ada benih lain yang ditanam
Pagi atau sore aku akan menyianginya
Supaya tidak tumbuh rumput liar didekatnya

Menantu

Bapak Ibu di stasiun kereta, sedang membicarakan pacar puteranya, mungkin calon mantunya. Setelah mengamati perempuan ber rok pendek yang lari-larian mengejar kereta. Ibu itu berkomentar dengan logat Jawatimuran, yang mirip logatnya Bapak.
"Nek Wiwik ki nek jareku kalusen Pak, klemar-klemer, kurang gesit. Wong macak ko subuh kok jam nem seprapat lagi rampung."
"Tapi rak luwih ayu, timbang Rani."
"Ayuo rak yo sedelo amoh. Nek Rani rak kendel bocahe, guesit, cekatan."
"Yo bener kui, bener. Bocahe awake dewe sing genah milih sing becik Bune."
Aku mesem-mesem "Kulo mawon, Pak Dhe. Kulo mawon."

Rak Buku

"Sabtu ini kita jadi nonton?"
Tanyanya ketika aku mengangkat telepon darinya.
"Ada film apa?"
"Film yang kuceritakan kemarin."
"Ah, aku punya bukunya. Aku jamin ceritanya tidak sebagus yang digambarkan dibukunya. Merusak imaginasiku yang sudah sempurna dari yang sudah kubaca."
Aku memindahkan ponselku ke telinga kanan sambil memperbaiki posisi dudukku. Aku yakin telepon ini akan lumayan lama.
"Kamu punya bukunya? Aku mau pinjam."
"Ada. Boleh. Bukunya masih kusimpan di kardus."
"Di kardus?"
"Ya, dari sejak aku pindahan dari kosan, semua buku masih kusimpan di kardus. Sengaja memang, tidak kupindahkan ke rak buku."
"Kenapa? Kan sekarang kamu sudah di rumah."
"Aku cuma tidak yakin saja untuk memindahkan buku-bukuku ke rak. Kamu tau sendiri aku nomaden. Aku tidak tau kemana lagi aku akan pindah lagi, dan membawa buku-bukuku. Kalau aku harus pergi lagi, aku harus merapikan lagi, memindahkannya lagi dari rak ke kardus. Lalu dibawa pindah lagi. Aku malas."
Aku menarik nafas panjang, dan menyandarkan punggungku ke tembok. Percakapan ini jadi sedikit melelahkan.
"Ya, aku paham. Karana kamu memang takut untuk mencoba meletakkan buku-buku kamu di rak, karena kamu takut kamu akan pindah lagi, dan kamu lelah harus merapikannya lagi, mengemasnya lagi satu-persatu lalu pindah kesuatu tempat lagi."
"Ya, tapi nanti aku juga akan punya rak buku sendiri, tempat aku menetap dan meletakkan buku-bukuku di sana."
"Sebenarnya sama saja denganmu, kamu juga takut untuk mencoba meletakkan hati kamu pada seseorang, karena kamu takut kamu belum tentu menetap di sana, kamu takut jika harus pindah lagi, dan kamu lelah harus merapikan lagi hati kamu, lalu mulai lagi dari awal. Begitu kan?"
"Oh, come on! Kita tidak sedang berbicara soal hati. Kita cuma bicara soal buku."
"Ya, aku tau soal rak buku." Jawabnya ringan, namun menohok rasanya.
Aku lagi-lagi hanya menarik nafas panjang.
"Di rumahku, ada rak buku. Kalau kamu mau, kamu bisa menyimpannya ditempatku. Ada cukup ruang di rak bukukku untuk menyimpan buku-bukumu. Atau kalau kamu mau, kita bisa beli rak buku baru untuk menyimpan buku-bukumu supaya jangan hanya disimpan di kardus lalu berdebu. Ada cukup tempat."
Lagi-lagi aku membiarkan kata-katanya menggantung, tanpa aku menjawabnya.
"Aku cuma mau bilang, kamu, dan buku-bukumu perlu rumah, untuk kamu menyimpan rak buku di dalamnya, dan menata buku-bukumu di sana."
Kali ini aku tidak menarik nafas sama sekali. Aku menahannya, bersama bulir-bulir air mataku yang sudah nyaris jatuh.
"Kamu cuma perlu tau, dan ingat dengan baik. Kamu, bisa datang ke rumahku, kapanpun, ketika kamu siap meletakkan buku-bukumu di rak."
Lalu hening.
Aku selalu menghindari apapun yang berkaitan dengan perasaan, dengan hati, dengan komitmen dan segala sesuatu yang berkaitan dengan hubungan percintaan apapun. Ya, memang aku lelah. Lelah untuk menata, lalu pergi dan mengemas lagi, berpindah lalu menata ulang lagi. Tapi, jujur aku juga ingin, melihat buku-bukuku menua bersamaku, terjajar rapi di raknya.
"Sabtu ini kita jadi nonton?"
Seperti biasa, mengalihkan pembicaraan selalu jadi senjata sekaligus tamengku paling ampuh.
"Ku jemput jam 5?" Dia menawarkan diri.
"Oke."
Lalu dia menutup telponnya.

Hujan dan Rasa


Butir-butir hujan itu
biasnya sampai ke sudut mataku
menembus gelap yang tak kelihatan
Tanpa aku menerka-nerka dimana ia jatuh
melalui suaranya aku tahu dengan pasrah ia jatuh membiarkan dirinya melebur bersama debu
hanyut di ujung-ujung daun
lebur di bebatuan jalanan
Nyatanya hujan ini tak hanya membawa air,
ia membawa rasa
rasa yang membuatku menerka-nerka
Rasaku, di mana engkau merelakan dirimu jatuh, hanyut dan lebur?