Jumat, 08 September 2017

Rak Buku

"Sabtu ini kita jadi nonton?"
Tanyanya ketika aku mengangkat telepon darinya.
"Ada film apa?"
"Film yang kuceritakan kemarin."
"Ah, aku punya bukunya. Aku jamin ceritanya tidak sebagus yang digambarkan dibukunya. Merusak imaginasiku yang sudah sempurna dari yang sudah kubaca."
Aku memindahkan ponselku ke telinga kanan sambil memperbaiki posisi dudukku. Aku yakin telepon ini akan lumayan lama.
"Kamu punya bukunya? Aku mau pinjam."
"Ada. Boleh. Bukunya masih kusimpan di kardus."
"Di kardus?"
"Ya, dari sejak aku pindahan dari kosan, semua buku masih kusimpan di kardus. Sengaja memang, tidak kupindahkan ke rak buku."
"Kenapa? Kan sekarang kamu sudah di rumah."
"Aku cuma tidak yakin saja untuk memindahkan buku-bukuku ke rak. Kamu tau sendiri aku nomaden. Aku tidak tau kemana lagi aku akan pindah lagi, dan membawa buku-bukuku. Kalau aku harus pergi lagi, aku harus merapikan lagi, memindahkannya lagi dari rak ke kardus. Lalu dibawa pindah lagi. Aku malas."
Aku menarik nafas panjang, dan menyandarkan punggungku ke tembok. Percakapan ini jadi sedikit melelahkan.
"Ya, aku paham. Karana kamu memang takut untuk mencoba meletakkan buku-buku kamu di rak, karena kamu takut kamu akan pindah lagi, dan kamu lelah harus merapikannya lagi, mengemasnya lagi satu-persatu lalu pindah kesuatu tempat lagi."
"Ya, tapi nanti aku juga akan punya rak buku sendiri, tempat aku menetap dan meletakkan buku-bukuku di sana."
"Sebenarnya sama saja denganmu, kamu juga takut untuk mencoba meletakkan hati kamu pada seseorang, karena kamu takut kamu belum tentu menetap di sana, kamu takut jika harus pindah lagi, dan kamu lelah harus merapikan lagi hati kamu, lalu mulai lagi dari awal. Begitu kan?"
"Oh, come on! Kita tidak sedang berbicara soal hati. Kita cuma bicara soal buku."
"Ya, aku tau soal rak buku." Jawabnya ringan, namun menohok rasanya.
Aku lagi-lagi hanya menarik nafas panjang.
"Di rumahku, ada rak buku. Kalau kamu mau, kamu bisa menyimpannya ditempatku. Ada cukup ruang di rak bukukku untuk menyimpan buku-bukumu. Atau kalau kamu mau, kita bisa beli rak buku baru untuk menyimpan buku-bukumu supaya jangan hanya disimpan di kardus lalu berdebu. Ada cukup tempat."
Lagi-lagi aku membiarkan kata-katanya menggantung, tanpa aku menjawabnya.
"Aku cuma mau bilang, kamu, dan buku-bukumu perlu rumah, untuk kamu menyimpan rak buku di dalamnya, dan menata buku-bukumu di sana."
Kali ini aku tidak menarik nafas sama sekali. Aku menahannya, bersama bulir-bulir air mataku yang sudah nyaris jatuh.
"Kamu cuma perlu tau, dan ingat dengan baik. Kamu, bisa datang ke rumahku, kapanpun, ketika kamu siap meletakkan buku-bukumu di rak."
Lalu hening.
Aku selalu menghindari apapun yang berkaitan dengan perasaan, dengan hati, dengan komitmen dan segala sesuatu yang berkaitan dengan hubungan percintaan apapun. Ya, memang aku lelah. Lelah untuk menata, lalu pergi dan mengemas lagi, berpindah lalu menata ulang lagi. Tapi, jujur aku juga ingin, melihat buku-bukuku menua bersamaku, terjajar rapi di raknya.
"Sabtu ini kita jadi nonton?"
Seperti biasa, mengalihkan pembicaraan selalu jadi senjata sekaligus tamengku paling ampuh.
"Ku jemput jam 5?" Dia menawarkan diri.
"Oke."
Lalu dia menutup telponnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar